<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500</id><updated>2011-12-27T02:35:25.206-08:00</updated><title type='text'>LumbungPeran</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-4241263434758925546</id><published>2011-08-31T20:46:00.000-07:00</published><updated>2011-08-31T20:48:47.103-07:00</updated><title type='text'>palu contemporary</title><content type='html'>Biografi Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moh. Nurdiansyah Lahir	di kota Palu, 14 Oktober 1979 menikah dengan Nurul Jamilah, dikarunia anak lelaki bernama Miftakhul Abdussalam. Pendidikan terakhir Institute Seni Indonesia Yogyakarta. Tahun 2008. Mulai mengenal seni teater Tahun 1996, dan berperan dalam lakon “Sando”, karya Hidayat  Lembang di Taman Gor Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 1997, pentas Naskah “Tomanuru” karya Musa Abd Kadir sebagai pemain. Tahun 2000, pentas teater dalam Festival Alimin Award naskah “Lysistrata” karya Sophoclas sebagai Walikota bertempat di Auditorium RRI Kota Palu meraih  Aktor terbaik. Tahun 2001, berperan sebagai Alimin dalam naskah “DOR” karya Putu Wijaya. Tahun, 2003, pentas “Tomanuru” naskah dan sutradara Musa Abdul Kadir, dalam “Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta”. Tahun 2004, bergabung dengan sanggar teater Debur 21 Yogyakarta sebagai Aktor pentas di tiga Kota (Bandung, Surabaya, Yogyakarta). Naskah “Jangan Kau Culik Anak Kami” Sutradara dan penulis Alan Papin. Tahun 2008 bergabung dengan sanggar Teater Lampu Pleret Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Belajar menyutradarai dan menulis naskah diawali Tahun 2004, dalam naskah “Parodi Taiganja” di pentaskan di Auditoriun RRI Kota Palu. Tahun 2003, sebagai sutradara, pemain dan penulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala” di pentaskan dalam acara Artefak Donggala di Sulawesi Tengah. Tahun 2006, sutradara lakon “Sahabat Terbaik” karya James Saunders dipentaskan di stage teater ISI Yogyakarta. Tahun 2006, sutradara lakon “Sonata dan Tiga Lelaki” #1 karya Jean Tardieu pentas di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, Sutradara lakon “Sonata dan Tiga Lelaki” #2 karya Jean Tardieu dipentaskan di Teater Arena ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara lakon “Sonata dan Tiga Lelaki” #3 karya Jean Tardieu di pentaskan di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2008, Sutradara dan Aktor dalam lakon “Roro Mendut Jelas Salah” karya Wimbadi JP. Dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2009,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sutradara dan penulis naskah “Tondatalusi” dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya pada Festival Soerabaya Djoeang. Tahun 2009, Asisten Sutradara dan Stage maneger dalam naskah “Sepasang Merpati Tua” karya Bagdi Soemanto dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2010, Sutradara dan penulis naskah “Balada Orang Sampah” dipentaskan di Taman Budaya Kota Palu Sulawesi Tengah. Tahun 2010, Sutradara naskah “Lawan Catur” karya Keneth Arthur dipentaskan pada Festival Teater Pelajar Tingkat Nasional Se- SMA di IKIP PGRI Semarang dan mendapat tiga Nominasi (pembantu Aktor terbaik, Aktris terbaik, Penyaji terbaik). Tahun 2010, sutradara naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya dalam Festival Negarakreatagama. Tahun 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penata Artistik dan Aktor dalam naskah “Awas” karya Putu Wijaya ditulis kembali dan disutradarai oleh Ibet pada acara “Mimbar Teater” di teater Bong Taman Budaya Surakarta. Tahun 2010, Menyutradarai Naskah “Balada Orang Sampah” naskah M. Noerdianza pementasan teater Sanggar Seni Lentera di Taman Budaya Kota Palu. Tahun 2011 Menyutradarai dua naskah sekaligus, tema “Semalam Dua Karya”, yakni “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht. Terjemahan Frans Rahardjo. “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto. Tahun 2011, Menyutradarai naskah berbahasa Kaili “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi di pentaskan keliling di kota dan kabupaten. Tahun 2011, menyutradarai naskah “TARIAN KATA PEMIMPIN” karya Moh. Nurdiansyah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain Aktor dan sutradara teater, juga mendalami bidang Artistik, yakni Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Come and Go” di Kedai Kebun Yogyakarta. Tahun 2007, penata panggung dalam lakon “Kereta Kencana” karya Iogene Ionesco di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2009, penata lampu pentas Monolog “Merdeka” karya Putu Wijaya pada Festival Kesenian Yogyakarta, di Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 2008, Penata panggung naskah “Abu” sutradara Daniel Exaudi dalam Tugas Akhir penyutradaraan di Sage Teater ISI Yogyakarta. Dalam bidang sastra Tahun 2001, mengikuti “Lomba Cipta Puisi Mencari Jejak” dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Palu sebagai peserta. Menulis naskah Teater “Tondatalusi”, menulis Naskah Teater “Belenggu Air”, menulis naskah “Parodi Taiganja” menulis naskah “Kepala Batu Batu Kepala”, menulis naskah “Balada Orang Sampah”, menulis naskah “Tarian Kata Pemimpin”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi yang diraih, Tahun 2000, sebagai Aktor terbaik “Festival Alimin Award”. Tahun 2001, Harapan 1 Lomba Cipta Puisi “Mencari Jejak”, Tahun 1999, Juara 1 lomba cipta lagu pada Festival Musik Akustik di Kota Palu. Pengalaman dalam bidang Musik. Tahun 2001, bergabung dengan sanggar tari tradisi Cemara Vaino Kota Palu sebagai penata musik tari. Tahun 2003, bergabung dengan Komunitas Seni Tadulako pentas musik etnik Kontemporer “Kumpul Kempel Kampus” di Teater Kecil Surakarta, sebagai penabuh gendang, Tahun 2003, pentas musik kontemporer “Lima Cara Lima Suara” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Tahun 2004, Ilustrasi musik teater “Kereta Kencana” mayor Vocal dan suling, sutradara Erwin Sirajudin. Tahun 2004, Penata musik puisi “Mainang” karya Iyak dipentaskan dalam acara pentas perdana sanggar Sawung Dupat di Stage Teater ISI Yogyakarta. Tahun 2007, penata musikalisasi puisi “Sepasang Pengantin” karya Iyak dalam acara temu sastra UGM. Tahun 2011 Penata Musik Tari S-2 dengan tema lingkungan di sungai halaman Joko Pekik. Tahun 2011 Penata Musik Teater S-2 sutradara Silvi Purba (Dosen ISI).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan Penciptaan&lt;br /&gt;Berangkat dari selera tiap-tiap individu dikemas menjadi sesuatu yang mugkin menggelikan tapi itulah kejujuran. Layaknya anak-anak kecil sedang asik bermain mengeluarkan kata-kata “jorok” yang menyinggung perasaan tapi itulah kenyataan dari ke-polos-an seorang anak, tanpa menyadari apakah berdosa atau tidak ataukah menyinggung perasaan atau tidak. Landasan penciptaan ini meminjam aliran, gaya dan bentuk Performance Art yang banyak dipengaruhi oleh Dadaisme dan Futurisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaisme berasal dari bahasa Jerman yang berarti tanda kebodohan yang naïf, ketololan, lamban. Dada atau Dadaisme tumbuh dan berkembang di wilayah netral, yaitu Zürich, Switzerland, semenjak Perang Dunia I (1916-1920). Aliran gaya dan bentuk Dadaisme meliputi seni visual, sastra (puisi, pertunjukan seni, teori seni), teater dan desain grafis. Titik fokus aliran ini, yakni budaya dan politik. Kegiatan gerakan ini antara lain pertemuan umum, demonstrasi dan publikasi jurnal seni/sastra. Tahun 1924, aliran Dada menemukan gaya dan bentuknya menjadi Surealisme, Realisme Sosial, dan sebagainya. Mayoritas pecinta Dada menentang mengatakan Dada sebagai awal seni postmodern. Setelah Perang Dunia II berakhir, sebagian besar penganut Dadais Eropa pindah ke Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir perang dunia kedua banyak bermunculan gerakan dalam bidang seni dan sastra. Namun Vladimir Lenin tidak perduli dengan aktivitas revolusi seni, Vladimir menulis rencana revolusioner Rusia di apartemen dekat gedung Cabaret Voltaire. Pada saat itu pula berlangsung pertunjukan Dadais Zurich. Pada tahun 1974 Tom stoppat menggunakan kisah tersebut menjadi ide karya dramanya yang berjudul “Travesties” tokoh yang ditulis dalam karyanya, yakni Tzara, Lenin, dan James Joyce. Setelah pertunjukan usai, gedung Cabaret Voltaire tidak terpakai lagi. Tahun 2002 tepatnya bulan Januari hingga Maret, Mark Divo pimpinan Dadais menggelar pertunjukan. Para kelompok yang mengikuti pagelaran tersebut meliputi Jan Thieler, Ingo Giezendanner, Aiana Calugar, Lennie Lee dan Dan Jones. Setelah pagelaran berakhir para kelompok tersebut mengasingkan diri. Kini gedung Cabaret Voltaire menjadi museum sejarah Dada. Karya Lennie Lee dan Dan Jones terpampang di dinding museum. Tahun 1967, diadakanlah pertemuan di Prancis. Pada Tahun 2006, Museum Seni Modern di New York City mengadakan pameran Dada bersama Galeri Seni Nasional (National Gallery of Art) di Washington D.C. dan Centre Pompidou di Paris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Futurisme lebih berbentuk manifesto/pernyataan daripada praktek, dan lebih propagandis daripada sebuah bentuk produksi nyata. Pelopor performance art “Bauhaus” Jerman, didirikan pada 1919, adalah aliran, gaya dan bentuk seni yang mengeksplorasi hubungan antara ruang, suara dan cahaya. Di Amerika Serikat performance art “The Black Mountain College” didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1960-an oleh instruktur Bauhaus tetapi diasingkan oleh Partai Nazi, selain itu juga ada "Beatniks" - stereotip: rokok, kacamata hitam dan baret hitam, cukup terkenal sekitar akhir 1950-an dan awal 1960-an. Pada awalnya aliran, gaya dan bentuk seni ini digunakan untuk menggambarkan setiap peristiwa yang artistik dalam hidup seperti penyair, musisi, pembuat film, dll - di samping seniman visual. Dada, Futurism, Bauhaus dan Black Mountain College adalah inspirasi dan membantu membuka jalan bagi Performance Art yang mengacuh kepada tubuh fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Obyek Penciptaan&lt;br /&gt;       Sekilas tentang “Tondatalusi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TONDATALUSI, memiliki makna yang terdiri dari tiga tungku mewakili Adat, Agama dan Pemerintahan, sebagai simbol ke-bersama-an menuju sebuah tujuan, yakni KEDAMAIAN. Berikut penjelasan secara spesifik mengenai sistem tradisi. TONDATALUSI adalah sistem tradisional atau pra modern, antara lain individu dan masyarakat tidaklah merupakan objek, tetapi subjek yang turut menentukan arah kehidupan. Sistem Agama adalah sistem yang baku yang tidak bisa diubah agamalah dasar pijak kehidupan. Dan kebenarannya tak diragukan lagi. Sistem pemerintahan adalah sistem politik modern yang memiliki tiga unsur, di antaranya Demokrasi, Konstitusional, dan Berlandaskan hukum. Demokrasi adalah kebebasan individu dalam berpendapat, Konstitusional ialah aturan dasar yang ditempuh melalui kesepakatan. Sementara Hukum itu sendiri mewadahi perbedaan paham dan pandangan, serta mengatasinya dengan cara beradap dan damai, dalam aturan yang disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Penciptaan&lt;br /&gt;Penciptaan ini mengambil acuan dari realitas sosial kultur masyarakat kota palu. Hal penting dalam konsep penciptaan, yakni pesan moral yang termuat dalam penciptaan, yang nantinya penulis akan sampaikan melalui simbol kostum, tubuh fisik dan lokasi tempat pertunjukan. Dan menjadi titik fokus pada penciptaan ini, yakni Teluk, Kota dan Perubahan. Proses penciptaan ini berangkat dari sistem tradisi di tanah kaili yang disebut dengan Tradisi “Tondatalusi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Tondatalusi dibenturan dengan realitas modern. Dalam masyarakat modern dasar atau keutamaan dari sistem sosial antar individu telah melangkah jauh dari aturan-aturan dan hubungan antara satu dengan yang lainnya dan lebih bersifat impersonal menjadi lebih pre-dominan. Bahwa kebersamaan me-nampak-kan kesenjangan sosial semata-mata hanyalah khiasan belaka, bagai tarian kata yang di-curah-kan di dinding closet. Duduk berak membaca tulisan sekitar lalu keluar dan me-lupakan-nya. Tidak ada lagi yang saling percaya, idelisme komunal kehilangan makna, dan sistem telah melangkah jauh dari bukti-bukti empiris (berdasarkan pengalaman dan penghayatan) Idealisme dalam penulisan ini tidak lagi menunjukkan sikap saling menerima atau menghayati antara satu dengan yang lainnya, hilangnya sikap saling menyokong sebuah perencanaan, kepala adat mengundang mahluk gaib melalui tubuhnya, dan mahluk gaib itu berkata. “Tambang Emas di Poboya milik rakyat dan harus diperuntukan untuk rakyat, tidak akan terjadi apa-apa, tidak akan ada bencana tetapi dengan satu syarat harus berpegang teguh pada “keadilan”. Tetapi pada realitasnya tidak ada keadilan yang terlihat. Hasil yang didapatkan para pekerja tambang tidak setimpal dengan kerjanya, apalagi pekerjaan menambang yang menjadi taruhannya adalah nyawa. Puluhan bahkan ratusan penambang mati tertimbun tanpa adanya kabar berita, yang paling buruk lagi, limbah tambang mengotori kejernihan air. Kejernihan air berubah menjadi keruh bercampur limbah mercury yang berasal dari tambang emas Poboya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketut Suarayasa, hasil lab menunjukkan 0,01 masih bisa dikatakan normal, namun saat ini hasilnya telah mencapai 0,005, berarti positif mengandung mercury,” Mercury adalah unsur kimia sangat beracun (toxic). Logam Hg ini dapat terserap ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan kulit. Bahaya penyakit yang ditimbulkan oleh senyawa merkuri di antaranya kerusakan rambut dan gigi, hilang daya ingat dan terganggunya sistem syaraf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memandangi kota dari puncak ketinggian memiliki pemandangan khas yang unik dan begitu indah dipandang mata. Berada di antara aliran sungai yang mengalir dari arah selatan. Sisi barat dan timur adalah pegunungan yang ceruk lonjongnya ke arah utara membentuk garis pesisir teluk yang menawan. Dimensi gunung, sungai, laut dan pesisir teluk itu memberi ciri khas tersendiri bagi kota Palu. Seiring dengan kemajuan perkembangan pembangunan fisik dan non fisik yang semakin pesat, Taman Hutan Raya Poboya pun kini gundul dan berbopeng. Sangat disayangkan apabila kita berada di tengah kota, terik matahari begitu terasa di ubun-ubun, pepohonan seperti yang kita pahami sebagai nafas bumi begitu rindang dipinggiran trotoar jalan, menghiasi kota dan memberi kesejukan pada pejalan kaki untuk berteduh dilenyapkan begitu saja. Sementara rombongan pembela agama menganggap diri mereka lebih benar dari yang lain, memukul tanpa adanya alasan dan belas kasih, agama mereka jadikan sebagai dalih. Para pemerintah menjalankan roda pemerintahannya macet dikarenakan angka-angka. Semua ingin me-nunjuk-kan eksistensinya sendiri tanpa peduli siapa dan apa yang ada di sekitarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Moral&lt;br /&gt;Pesan moral dapat diartikan sebuah nasehat atau ajakan tentang ajaran baik dan buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan dan sikap manusia. Dengan demikian pesan moral dalam performance art dengan judul “Tondatalusi tinggal sebuah dongeng”. Performance ini bukan hiburan yang memanjakan penonton. melainkan kegelisahan individu terhadap realitas sosial, kita sendiri seolah saling menelanjangi, saling membuka aib melupakan etika, hilangnya kebersamaan antara adat agama dan pemerintah untuk saling mengisi dan berbagi gagasan-gagasan demi pembangunan kota itu sendiri. Bukan merasa diri sok suci dari individu lain. Manusia hanya bisa saling mengingatkan, saling menopang demi terciptanya pembangunan karakter individu. Terwujudnya pembangunan karakter individu akan mewujudkan karakteristik suatu bangsa. Meskipun demikian kita tak dapat menyangkal bahwa kita tidak bisa lepas dari sistem-sistem yang telah dibuat dan telah disepakati bersama. Satu-satunya cara membuat sistem di dalam sistem, dengan sistem cinta. Hanya dengan sistem cinta tentu kita akan tersentuh untuk menjaga kelestarian, kekhasan dan keunikan kota dan menghargai tradisi budaya di tanah Kaili. Tradisi tondatalusi kini layaknya sebuah dongeng yang hanya meninabobokan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Tempat&lt;br /&gt;Lokasi performance outdoor dengan dua alternatif. Pertama halaman Taman Budaya, kedua kampung nelayan tepatnya pinggiran pantai pegaraman. Alasan memilih dua alternatif tempat, pertama lokasi Taman Budaya adalah tempat atau wadah seniman berkreasi, dan melihat lokasi di halaman Taman Budaya kurang dengan  pepohonan sesuai degan konsep pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif kedua kampung nelayan tepatnya lokasi pegaraman selain tidak adanya tempat berteduh dari pepohonan, konon kabarnya juga lokasi pegaraman tersebut adalah tempat awalnya rombongan Pue Nggari mendiami Besusu. Dilokasi penggaraman ini digalilah sumur oleh seorang keluarga Pue Nggari yang bernama “Rasede”, sumur inilah yang diberi nama “Buvu Rasede” sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Costum&lt;br /&gt;Kostum sebagai semiotika atau simbol tanda dan penanda dalam pertunjukan. Sama halnya dengan pilihan tempat yang dipaparkan di atas. Pilihan kostum dibagi menjadi tiga bagian sesuai urutan tradisi Tondatalusi diawali dengan adat. Adat ibarat awal lahirnya manusia dari rahim seorang ibu, yakni kepala. Kepala sebagai tanda kehormatan maka penanda yang digunakan adalah Siga atau pelindung kepala istilah umum dikenal topi. Setelah adat masuklah agama yang di simbolkan dengan baju koko. Kemudian pada bagian bawah menganakan celana dinas pegawai negeri. Sebagai penggerak berkembang atau tidaknya suatu bangsa. Agama berada diposisi tengah yang ditandai dengan baju koko sebagai penyeimbang. Sementara payung simbol perlindungan. Payung yang akan digunakan performer, yakni payung yang lubang dan terlihat kusam, beberapa jerujinya patah dan berkarat. Payung sebagai penanda kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot/Alur (jalan cerita)&lt;br /&gt;Performance dimulai saat matahari tepat diubun-ubun. Performer menggambar peta Sulawesi Tengah dengan cat dan kuas, di mana titik kuas berhenti di situlah perform duduk. Seiring waktu berjalan perform terus duduk di bawah terik matahari sambil berlindung di bawah payung yang nampak kusam dan berlubang-lubang. Karena tidak tahan dengan panasnya terik Matahari, perform membuka siga (penutup kepala) dan menaruhnya di atas payung yang berlubang. Kemudian perform kembali duduk statist. Cahaya panas matahari masih menembus payung yang berlubang, perform membuka baju koko kemudian menaruhnya di atas payung menutupi lubang. Perform kembali duduk seperti semula. Waktu terus berlalu cahayapun masih menembus payung, perform membuka celananya lalu menaruhnya di atas payung. Perform kembali duduk. Jarum jam setia pada lingkarnya, cahaya matahari tidak terlihat lagi menembus payung yang berlubang, akhirnya perform menutup payung dengan perlahan dan tubuhnya terbungkus payung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Alur cerita di atas ditemukanlah tema dari judul karya performance:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             “Tondatalusi”&lt;br /&gt;        tinggal sebuah dongeng&lt;br /&gt;                                                                                     Tema: “Rindu akan hadirnya sebuah kebersamaan”           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “performance art &amp; kontemporer”&lt;br /&gt;   Sekilas perjalanannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai performance art sama halnya membicarakan semangat pembaharuan dalam seni. Satu semangat yang bisa membuat penonton tertantang berpetualang. seperti halnya seniman: selalu melakukan petualangan setiap kali berkarya. "Performance art” adalah sebuah penampilan langsung yang memadukan segala unsur seni. Cara menikmati karyanya sangat tergantung pada tindakan yang ditentukan oleh suatu tempat dan penonton. Ini sebuah bentuk seni yang tumpang tindih dan melampaui bentuk-bentuk karya yang menggunakan aksi atau tindakan seperti; happening art, action painting, process art, street art, body art, dan sebagainya. Sebuah performance art ditentukan oleh beberapa cara yang tidak sama dengan teater atau seni tari. (Walker, 1977). Sekitar tahun 1909 kelompok Futurist di Paris yang beranggotakan penyair, pelukis, dan pemain teater, menggunakan tubuh sebagai medium performance art. Mereka menganggap bahwa tidak ada sesuatu yang riil kecuali benda-benda fisik, akal dan kesadaran merupakan perwujudan dari benda itu sendiri dan dapat mengecil menjadi unsur-unsur fisik dalam seni. Perfomance art juga merupakan bentuk perlawanan terhadap kemapanan seni yang hanya dapat dikonsumsi oleh segelintir orang kaya dan penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Perforamance art di Indonesia&lt;br /&gt;Di Indonesia performance art muncul tahun 1975 seiring dengan adanya Gerakan seni rupa Baru. Pada awal kemunculannya sampai tahun 2000, performance art masih ”murni” menjadi seni garda depan. Kritis terhadap dunia seni rupa Indonesia dan muncul di jalan-jalan bersama mahasiswa dan masyarakat berdemonstrasi memperjuangkan nilai keadilan. Ketika muncul warna baru dalam seni rupa (media art dan new media art) yang lahir dari persinggungan seni dan teknologi, performance art mengalami perkembangan. Dalam perkembangan dunia seni rupa kontemporer Indonesia dewasa ini, khususnya karya-karya yang bersinggungan dengan perkembangan teknologi, New Media Art (seni media baru) adalah salah satu contohnya. Dalam konteks seni, penggunaannya sering dipahami sebagai tawaran kemungkinan baru dalam menciptakan atau mengalami kesenian. Salah satunya adalah adanya perubahan bentuk performance art menjadi multimedia performance dan yang terakhir berubah bentuk menjadi video performance. Video performance, lahir dari sejarah panjang perkembangan performance art. Selain persoalan perpaduan seni dan teknologi yang mendorong metamorfosisi (perubahan bentuk) performance art menjadi video performance seperti di atas. Tulisan ini juga membahas aspek-aspek sosial seiring kemunculan dan perkembangan performance art di Indonesia. Pertama performance art sebagai seni penyadaran dan perlawanan dengan cara mengembangkan kembali realitas sosial dan kemapanan seni rupa itu sendiri. Kedua adanya wadah dalam praktik pemberitaan kilat secara luas (termasuk Indonesia) yang membelokkan arah perjuangan. Ada juga jenis performance art dari wadah penyadaran menjadi seni periklanan untuk kepentingan pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contemporary&lt;br /&gt;Contemporary banyak digunakan untuk menyebut praktek seni visual. Dalam pertunjukan Kontemporer tidak ada pertanyaan yang terjawab secara langsung, tidak ada gaya yang wajib dianut, tidak ada penafsiran yang selalu benar. Seni Kontemporer adalah perkembangan seni yang terpengaruh dampak modernisasi dan digunakan sebagai istilah umum. Sejak istilah Contemporary Art berkembang di Barat sebagai produk seni yang dibuat sejak Perang Dunia II. Kontemporer berkembang di Indonesia seiring makin beragamnya teknik dan medium yang digunakan untuk memproduksi suatu karya seni, Tidak ada sekat antara seni visual, teater, tari, dan musik. Menurut pendapat penulis Kontemporer itu ilmu yang mempelajari kebebasan ekspresi memiliki makna-makna filosofis tanpa bergantung pada aturan-aturan dari ragam unsur seni. Kontemporer itu berbicara masalah kekinian, selalu abdate dengan peristiwa peristiwa kekinian.  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-4241263434758925546?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/4241263434758925546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/08/palu-contemporary.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/4241263434758925546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/4241263434758925546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/08/palu-contemporary.html' title='palu contemporary'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-177074684471563775</id><published>2011-07-31T10:48:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T10:49:03.515-07:00</updated><title type='text'>Proses Kreatif Sanggar Seni Lentera Kota Palu</title><content type='html'>Oge Bin Sone Ltr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 28 Mei 2011 Desa Towale, Donggala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi Sanggar Seni Lentera kini dapat dibuktikan dengan pementasan keliling yang diadakan secara berkesinambungan yang diawali di Desa Towale, Kabupaten Donggala Sabtu (28/5) Malam. Pementasan Teater  berbahasa kaili berjudul I Mangge Mpobilisi yang secara etimologis atau asal kata berarti “Mangge” (Paman) yang selalu marah-marah, mendapat sambutan sangat baik dari warga Desa.  Ratusan warga memenuhi halaman Sekolah Dasar yang menjadi “panggung” pertunjukkan malam itu. Tidak ada polesan bedak dan baju yang bagus, semua warga menyaksikan pertunjukan dengan kostum apa adanya. Mengenakan sarung, baju yang sedikit robek, bahkan tanpa alas kaki. Antusias warga desa-pun telah terlihat beberapa jam sebelum pementasan dimulai. Anak-anak berkumpul menyaksikan bagaimana para aktor melakukan latihan blocking, ketika aktor mulai proses make up, dan ketika alunan musik etnik dari Pukulan Jembe, petikan kecapi, serta tiupan Mbasi-mbasi membuat mereka bergoyang sembari tertawa. Pertunjukkanpun dimulai. Riuh tepuk tangan penonton menjadi pembuka pementasan. Satu persatu aktor keluar dan memecah tawa warga desa yang beberapa sedang dirundung duka karena baru saja sanak mereka berpulang ke Rahmatullah. Perbedaan bahasa pun tidak mengurangi tawa mereka. Bahkan beberapa orang tak bisa berhenti tertawa menyaksikan pertunjukkan yang berdurasi 45 menit itu. “Tataaaaaaaaaaaaaaaaaa ......” Teriakan terakhir yang diucapkan para aktor menyaksikan kematian Mangge diiringi padamnya lampu menandakan pertunjukkan selesai. Rasa puas terlihat dari raut wajah penonton yang mungkin baru pertama kali menyaksikan pertunjukkan teater. Seluruh team Produksi dari Sanggar Seni Lentera-pun tak kalah puas dengan sambutan Warga Desa Towale yang sungguh sangat luar biasa. Kehadiran Ketua Dewan Kesenian Donggala (DKD) Tanwir An Petalolo pun memberi semangat kepada Sanggar Seni Lentera untuk menampilkan pertunjukkan yang lebih baik lagi ke depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 4 Juni 2011 Balaroa, Palu Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sukses melakukan pementasan keliling perdana di Desa Towale, Kabupaten Donggala. Sanggar Seni Lentera kembali melanjutkannya di Balaroa, Palu barat untuk memperkenalkan Keluarga “I Mangge Mpobilisi” . Berbeda ketika pentas di Towale, Antusias Warga Balaroa kurang terlihat pada awal persiapan pementasan. Mungkin karena lokasi yang masih di dalam Kota mempengaruhi perilaku warga dan menjadi perbedaan ketika berada di desa Towale dan Balaroa. Pementasan dilakukan di halaman rumah warga yang cukup luas. Banyak kejadian lucu yang terjadi ketika pertunjukkan berlangsung, disalah satu rumah warga yang dijadikan setting rumah Mangge, ternyata ada Bayi yang berumur beberapa bulan tertidur dengan nyenyaknya, bayi itu sesekali terbangun dan menangis mendengar teriakan mangge dan sesekali pula ibu Bayi tersebut harus menenangkan anaknya, ada juga seorang ibu yang terkejut saat melintas di halaman rumah warga yang dijadikan lokasi pertunjukan berjalan tepat depan Mangge yang sedang marah-marah dan membuat penonton tertawa, serta kejutan-kejutan lain yang memberi warna baru terhadap permainan. Tepuk tangan penonton menutup pertunjukkan malam itu. Warga Balaroa menampakkan kepuasan mereka terhadap pertunjukkan I Mangge Mpobilisi. Pemain dan Kru berkemas dan bersiap kembali untuk pementasan keliling selanjutnya. Sanggar Seni Lentera memberikan suasana baru dalam pertunjukkan teater. Dengan melakukan pentas keliling, Sanggar seni Lentera berharap dapat memberikan hiburan terhadap  Masyarakat karena baik di Desa Towale maupun di Balaroa sama-sama ..............................ADA TAHLILAN !! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu 11 Juni 2011 Sanggar Seni Lentera bekerjasama dengan DigiFood akan mengadakan Bazar sekaligus pementasan teater  berjudul “Le Silence”. Naskah Le Silence sendiri sukses di pentaskan pada tanggal 8 Maret 2011 pada pertunjukkan “Semalam Dua Karya” oleh Sutradara M.Noerdianza. Menampilkan kegelisahan seseorang ketika menunggu, amarah tanpa sebab, serta diam yang membuat kita terbahak. Naskah “Le Silence” diperankan oleh 3 orang Aktor yaitu Farid, Rollis dan Dilla yang memerankan dirinya masing-masing dengan aksen dan dialek yang berbeda. Konsep penggarapan naskah ini berbeda dari pertunjukan sebelumnya, yakni merubah beberapa dialog dikaitkan dengan ruang di mana pertunjukan berlangsung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-177074684471563775?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/177074684471563775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/proses-kreatif-sanggar-seni-lentera.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/177074684471563775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/177074684471563775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/proses-kreatif-sanggar-seni-lentera.html' title='Proses Kreatif Sanggar Seni Lentera Kota Palu'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-7375062011516249363</id><published>2011-07-31T10:46:00.001-07:00</published><updated>2011-07-31T10:46:49.708-07:00</updated><title type='text'>Sepenggal pengertian Teater Realis dan Akting Realis</title><content type='html'>M.Noedianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realis dalam seni &lt;br /&gt;Realis adalah sesuatu yang nyata. Segala sesuatu yang sama dengan realita. Seni adalah ilmu pengetahuan. Aliran realis dalam seni, yakni  ilmu yang mempelajari aliran, gaya dan bentuk  yang menghasilkan pertunjukan seperti halnya dalam realita kehidupan. Realita dalam kehidupan sehari-hari yang dialami oleh masyarakat lingkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisme dalam teater&lt;br /&gt;Realisme dalam teater, yakni untuk menciptakan sesuatu di atas panggung seperti  “kenyataan” yang ada. Menciptakan ilusi di atas panggung, seolah-olah penonton menyaksikan apa yang terjadi seperti dalam kenyataan sehari-hari. Ilusi tentang kenyataan yang terdapat dalam masyarakat kemudian “dipindah” di atas panggung. Mementaskan Teater realis tidak hanya bersumber pada realita kehidupan sehari-hari yang kita kenal, tetapi di atas panggung memerlukan ketepatan dalam menyampaikan gambaran kehidupan kepada penonton. Ketepatan dan tanggungjawab ini ada pada seorang sutradara, seseorang yang bertanggungjawab dari segi “artistik” di atas panggung, yang sebetulnya juga berfungsi “mewakili penonton” saat dalam proses latihan. Disinilah peran penting sutradara terhadap naskah, sutradara realis mengutamakan pengejaran kebenaran, jangan sekali kali mengejar estetik, yang harus dikejar sekali lagi kebenarannya, ketika kebenarannya ditemukan dengan sendirinya estetika akan muncul. Terdapat beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam pertunjukan teater realis, yakni: Naskah drama (lakon) realis, Acting (pemeranan) realis, Tata panggung realis, Make up realis, Kostum realis. Tata cahaya berfungsi sebagai penanda waktu maupun suasana. Musik dalam teater berfungsi sebagai suasana, penanda tempat, penanda waktu dan peristiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan The form of drama tentang suatu pementasan: “The Master Builder” karya Hendrik Ibsen, ketika dipentaskan di Guthrie Theatre dimainkan dengan sukses dengan gaya realis. Tetapi set, tata panggung yang melatar belakangi dengan perlengkapan /furniture yang sangat minim, “dibatasi” kelengkapannya, hingga terasa set / perlengkapan tersebut, tidak realis). Naskah drama realis, Pemeranan realis, Set / perlengkapan tidak realis. Hasilnya mendapat pujian.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara &lt;br /&gt;Sutradara ibarat masinis kereta api, tetap setia pada relnya, membawa penumpangnya  selamat sampai tujuan. Sutradara adalah seorang pemimpin membawa masyarakatnya menuju suatu keberhasilan. Pada zaman Yunani sutradara disebut didascalos yakni “guru” seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih dulu dibanding dengan lainnya, kemudian pengetahuannya itu diberikannya kepada seseorang yang dianggap belum memiliki pengetahuan, dalam hal ini teknis penyutradaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kerja sutradara Realis terhadap naskah realis.&lt;br /&gt;Pertama-tama membaca naskah berulang-ulang. &lt;br /&gt;Memaknai dan memahami setiap kata dalam dialog. &lt;br /&gt;Ketepatan artikulasi dan intonasi dialog&lt;br /&gt;Menggali latar belakang pengarang&lt;br /&gt;Menganalisis setting atau latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu dan peristiwa. &lt;br /&gt;Mengkaji tiga dimensi tokoh yang terdiri dari Psikologis, Sosiologis, Fisiologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting Realis  &lt;br /&gt;Akting realis disebut dengan akting  presentasi, yakni akting yang berusaha menyuguhkan tingkah laku manusia melalui diri si aktor, melalui pengertian terhadap diri sendiri dengan hasil mengerti karakter  yang dimainkannya. Dengan mengidentifikasikan diri  dan aksi-aksi dengan peran yang akan dimainkan, termasuk ketepatan Blocking atau garis. Gesture, movement, buisnis maka satu bentuk karakter akan tercipta. Memainkan tokoh dan berdialog dengan ucapan yang wajar yang dikenal oleh masyarakat lingkungannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-7375062011516249363?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/7375062011516249363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/sepenggal-pengertian-teater-realis-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7375062011516249363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7375062011516249363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/sepenggal-pengertian-teater-realis-dan.html' title='Sepenggal pengertian Teater Realis dan Akting Realis'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-6895701498147348716</id><published>2011-07-16T21:13:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T21:14:08.989-07:00</updated><title type='text'>“Festival Teater Remaja SMA/Sederajat 2011”</title><content type='html'>Oleh: Moh. Nurdiansyah, S.sn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival adalah serangkaian kegiatan yang menghadirkan berbagai genre seni yang dikemas secara kreatif, inovatif dan apik. Di kota-kota besar Festival teater baik mahasiswa maupun pelajar selalu bercondong pada naskah-naskah realisme, misalnya Pekan Seni Mahasiswa pada tangkai teater, para peserta diharapkan menggarap teater bergaya realis. Dewan Kesenian Jakarta menggelar Panggung Realis Teater Indonesia, juga Festival Teater Remaja di Jawa timur yang diselenggarakan Taman Budaya Jawa Timur menitik beratkan pesertanya pada naskah realisme. Hal tersebut dilakukan, sebab realisme sebuah dasar atau pijakan cara berpikir kritis dan logis untuk merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran, dan itulah sebabnya teater realis disebut the theatre of intelligent. Ini argumen mendasar teater modern baik itu kaum naturalis, realis, maupun teatrikalis. Max Arifin mengatakan bahwa teater adalah study. Dalam buku Jagad Teater [Bakdi Sumanto:2001], diterangkan semangat realisme yang sebenarnya merangsang seniman untuk kritis terhadap diri sendiri. Zaman sekarang ini generasi muda teater kehilangan fondasi atau dasar pijakan dalam membuat peristiwa teater. “Menurut Max Arifin, ada benarnya kalau sekarang kembali pada gagasan realisme, agar mereka tahu proses sebuah teater yang baik.” Sementara ktitik teater benar-benar macet. ketika semuanya macet, di sinilah peranan realisme dibutuhkan dan kita kembali pada hal yang sangat mendasar bagi manusia: Berpikir ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Teater merupakan sebuah bidang seni yang telah begitu lama mengakar pada budaya kita. Seni Teater dalam arti luas adalah sebuah pertunjukan yang dipertontonkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit disebut dengan drama, yakni kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak dengan media: percakapan, gerak dan laku. Saat ini terdapat begitu banyak remaja, khususnya pelajar sekolah yang berminat untuk bergelut dengan jenis kesenian ini, dan memasukan seni Drama/Teater sebagai ekstrakulikuler penyalur minat dan bakat para siswa/siswi. Tanpa disadari seni Drama/Teater sungguh besar arti dan manfaatnya, selain mendukung pencapaian kompetensi para siswa/siswi khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra, seni Drama/Teater juga mencakup manfaat dari kolektivitas, apresiasi, etos kerja dan solidaritas para siswa sekolah. Seni Drama/Teater tidak hanya sebatas pertunjukan memperlihatkan perannya di atas panggung kemudian selesai begitu saja. Seni Drama/Teater mengajarkan kita memahami akan diri sendiri, belajar memahami watak serta prilaku antara manusia satu dengan yang lain. Dengan demikian terciptalah ruang sosial dalam mewujudkan cita-cita untuk mencegah dan menghindar dari sikap-sikap negativ, sepertihalnya tawuran dan penggunaan narkoba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari hal tersebut di atas, kami dari Komite Teater Dewan Kesenian Palu akan menggelar ajang kreativitas yang kompotitif bagi para siswa SMA/SMK//MAN dan sederajat sebagai wadah penyalur minat dan bakat, serta sebagai jalur menuju tahap kompetitif. Festival ini juga akan berpegang teguh pada ‘dramaturgi,’ yakni ajaran tentang masalah hukum dan konvensi-konvensi drama yang memiliki standarisasi penilaian baik dari segi artistik maupun keaktoran. Komite Teater Dewan Kesenian Palu akan mengusung kegiatan ini dengan Tema “Festival Teater Remaja 2011”. Sebelumnya kegiatan ini pernah diadakan pada tahun 1996-1997. Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut “Festival Teater Pelajar”, dan kembali digelar oleh Komite Teater Dewan Kesenian Palu tahun 2010, peserta terbaik pada waktu itu SMA Negeri 1 Palu, mewakili Kota Palu mengikuti Festival Teater Pelajar Tingkat Nasional IKIP PGRI Semarang dan masuk beberapa nominasi, di antaranya Aktris Terbaik, pembantu aktor terbaik, penampil terbaik dan penyutradaraan terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FTR (Festival Teater Remaja) adalah salah satu program tahunan KOMITE TEATER DEWAN KESENIAN PALU yang merupakan ajang kompetensi pementasan Drama/teater bagi para siswa SMA/SMK/sederajat khususnya yang berdomisili di kota Palu. FTR diselenggarakan kembali, mengingat akan berlangsungnya kegiatan ini dan tanggungjawab kami sebagai segelintir orang yang terjun di dunia seni, maka kami membangkitkan semangat untuk meneruskan kegiatan seni yang positif. FTR merupakan wadah penyalur minat dan bakat seni generasi muda yang lebih kontruktif. Selain itu juga dapat menumbuh kembangkan sekaligus menggairahkan kehidupan seni teater di Kota Palu. Oleh sebab itu, melihat tumbuh dan berkembangnya seni Drama/Teater di kalangan SMA/SMK/MAN dan sederajat di Kota Palu sangat perlu mendapat perhatian dan dukungan yang serius dari semua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Teater Pelajar tidak hanya ada di Kota Palu saja. Festival Teater Pelajar tumbuh dan berkembang di kota-kota besar, yakni Jakarta dengan “FESTIVAL TEATER PELAJAR JAKARTA TINGKAT SLTA JAKARTA BARAT”,  Bandung “FESTIVAL TEATER REMAJA SE-JABAR”,  Semarang “FESTIVAL DRAMA PELAJAR SMA/SEDERAJAT TINGKAT NASIONAL IKIP PGRI SEMARANG”, Probolinggo “PESTA SENI PELAJAR FESTIVAL TEATER PELAJAR TINGKAT SMA/MA/SMK JAWA TIMUR”, kemudian Yogyakarta “FESTIVAL TEATER REMAJA SMA/SEDERAJAT SE-JAWA TENGAH INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA”, Solo “Festival Drama Realis”, Remaja se-Solo Raya. Banjarmasin dengan ”FESTIVAL TEATER PELAJAR SLTA SEDERAJAT” . dan masih banyak lagi di kota-kota lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-6895701498147348716?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/6895701498147348716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/festival-teater-remaja-smasederajat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6895701498147348716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6895701498147348716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/festival-teater-remaja-smasederajat.html' title='“Festival Teater Remaja SMA/Sederajat 2011”'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-7969574948436607312</id><published>2011-07-05T18:33:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T18:36:16.859-07:00</updated><title type='text'>Sekilas pengertian aktor</title><content type='html'>Aktor Harus "Menjadi"&lt;br /&gt;Bukan "Seperti" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanti fajar terbit diufuk timur tanpa mata terpejam, sementara cacing-cacing di dalam perut menangis menunggu makanan, ayam jantanpun terdengar berkokok. Hari itu adalah pertemuan yang sangat berharga  bisa berhadapan langsung bersama aktor membahas tentang sekelumit perasaan di saat pertunjukan berakhir. Masing-masing memiliki perbedaan pikir dan rasa. Hal ini menjadi ilmu yang sangat berharga bagi penulis, sebab pengalaman itu adalah guru yang terbesar. Dalam proses keaktoran, pengalaman itu menjadi kekayaan diri seorang Aktor. Jangan sekali-kali merasa puas dengan apa yang ditemukan dalam realitas sosial, cukup merasa bangga dengan apa yang didapatkan, bukan berarti kebanggaan itu dijadikan suatu kesombongan, akan menenggelamkannya pada kesombongan. &lt;br /&gt;Aktor tidak hanya menghafal dialog dalam naskah atau menggerakkan tubuh fisiknya begitu saja. Melainkan bagaimana merangsang alam imajinya melalui perenungan lalu merasakannya hingga menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Aktor tidak hanya sebatas “SEPERTI” tetapi harus “MENJADI”. Kalau hanya sebatas seperti yang muncul hanya kepalsuan, sama halnya ruang kosong yang hampa. Jika aktor menjadi, ruang kosong yang hampa terlihat menjadi hidup. Sebab inner kekuatan dari dalam tubuh Aktor memancar mengisi ruang-ruang kosong itu. Sehingga emosi penonton terbawa oleh irama atau suasana permainan. &lt;br /&gt;Bakat tidak menunjang sukses dan tidaknya seseorang tanpa didukung oleh kemauan besar. Dunia seni khususnya teater tidak memandang apakah ia berbakat atau tidak, apakah sebelumnya ia berpengalaman atau tidak, yang harus diperhatikan dan menjadi prioritas utama adalah menghargai proses kreatif. Terutama penghargaan terhadap waktu, kemauan, semangat dan rasa ingin tahu yang besar, sudah barang tentu apa yang ingin dicapai pasti akan berada dalam genggaman. Dalam dunia Akting jangan mengejar estetika atau keindahan, melainkan pengejaran kebenaran terhadap karakter tokoh, melalui analisis tiga dimensi tokoh. Ketika menemukan kebenaran itu, estetika atau keindahan akan muncul dengan sendirinya..oleh sebab itu jangan sekali-kali hanya berpikir, tetapi rasakan apa yang anda perbuat... pikir dan rasa bagai lampu dan saklar.  apabila pikir dan rasa menyatu mengalir ke tubuh fisik maka anda nampak “Menjadi” bukan “Seperti”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-7969574948436607312?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/7969574948436607312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/sekilas-pengertian-aktor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7969574948436607312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7969574948436607312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/07/sekilas-pengertian-aktor.html' title='Sekilas pengertian aktor'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-5879114661841331719</id><published>2011-06-06T21:25:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T21:26:15.938-07:00</updated><title type='text'>“Pemahaman Tasrif Lawido  Tentang Dewan Kesenian Palu dan Perkembangan Seni di Kota Palu  Sungguh Sangat Nihil”</title><content type='html'>Menyikapi tulisan Tasrif dimuat di Radar Sulteng Senin 6 Juni 2011)&lt;br /&gt;M.Noerdianza, S.sn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mengkritik jangan sembarang cas cis cus di depan pablik, apalagi sampai dimuat  di surat kabar harus ada bukti yang konkrit Kanda, siapa bilang DKP tidak ada program kerja, Komite Musik beberapa bulan lalu sudah melaksanakan program kerjanya, tepatnya 20 April 2011 di Taman Budaya, Komite Tari menghadiri pertemuan tari di Solo “Tari Internasional Dance Day 29 April 2011”, Sastra pelauncingan buku, Komite Rupa 11 Juni 2011, sementara Komite Teater akan diadakan Oktober 2011 mendatang. Saya sebagai pribadi sangat berat mengatakan kanda Tasrif sebagai Seniman senior, patut dipertanyakan kesenioritasannya. Berapa karya yang dihasilkannya? Bagaimana bentuk karyanya? Sebaik apa sih karyanya? Sementara banyak generasi yang mempertanyakan Tasrif itu siapa? Mana karya-karya yang dihasilkannya? Bentuk garapan dan ciri khasnya bagaimana sih.? Dari pertanyaan ini saja membuktikan bahwa Tasrif tidak dekat dengan masyarakatnya. Seorang seniman harus dekat dengan masyarakatnya, harus tahu perkembangan seni di Kota Palu. kalau seniman birokrat iya. Sementara, apa kontribusi Tasrif terhadap perkembangan seni di Kota Palu? Tidak jelas...kalaupun ada, garapannya pun amburadul, terbukti pada “Festival Danau Poso 2010”, iseng-iseng saya bertanya pada penari kontingen Palu, “Mba dari sanggar tari mana?” eh.., malah dijawab “maaf mas kita belum punya sanggar saya sebelumnya belum pernah menari” dan ada lagi letupan-letupan dari para penari kontingen kota “Aduh...mas saya gugup baru pertama kali ini tampil”, tidak masalah bagi saya itu hal yang wajar sebagai manusia, malah saya mencoba memberi suport “main yang bagus ya, rileks saja, yakin, jangan lupa smile. Usut demi usut ternyata para penari yang diutus pada “Festival Danau Poso” staf-staf Dinas Pariwisata Kota yang sama sekali belum berpengalaman dibidangnya. Saya berani berkata demikian sebab saya berada dilokasi. Sayang kontingen Palu dibawa binaan Tasrif hanya memalukan Kota Palu. Dinas Pariwisata seharusnya  sebagai fasilitator saja bukan para IO (Iven Orgenizer), beri kepercayaan kepada yang lebih berhak dan berpengalaman dibidangnya dan seharusnya ada penyeleksian antar para komunitas, sanggar atau kelompok tari se-Kota Palu, mana yang terbaik dialah yang mewakili kota. Kanda Srif jangan sampai kebohongan-kebohongan, kepalsuan-kepalsuan dalam sebuah karya, kau hadirkan lagi dipablik..bukankah esensi dari kesenian jujur dalam perkataan, ikhlas dalam perbuatan..!! saya malah menaruh curiga kanda harus dibawa ke rumah sakit jangan-jangan ada kelainan jiwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-5879114661841331719?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/5879114661841331719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/pemahaman-tasrif-lawido-tentang-dewan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5879114661841331719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5879114661841331719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/pemahaman-tasrif-lawido-tentang-dewan.html' title='“Pemahaman Tasrif Lawido  Tentang Dewan Kesenian Palu dan Perkembangan Seni di Kota Palu  Sungguh Sangat Nihil”'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-7127549017931743119</id><published>2011-06-02T16:38:00.001-07:00</published><updated>2011-06-02T16:38:33.803-07:00</updated><title type='text'>Seni Peran</title><content type='html'>“Dasar-Dasar Akting”&lt;br /&gt;Moh. Nurdiansyah, S,sn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHAPAN PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Seni “Akting”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan prilaku-prilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagai bentuk seni efemeral, maksud dari seni efemeral, yakni seni yang berlangsung melalui akting. (Yapi Tambayong, hal. 9:2000). Acting diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata peran (pemain sandiwara) yang dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami prilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Tentunya tidak hanya memahami tetapi juga melakukan prilaku orang tersebut. Asal kata Acting adalah to act atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan. (Eka D. Sitorus, hal. 37:2003). Aktor memanfaatkan Tubuh pikir dan rasa sebagai alat peragaannya yang terlatih baik, sifat keperagaan ini pulalah yang membedakan akting atau nilai seni drama dan karya seni teater, berbeda dengan seni-seni kreatif lainnya. Akting menurut Richard Boleslavsky keagungan penciptaan, kemurnian suatu keindahan, sesuatu yang lebih besar dari kehidupan. (RMA. Harymawan, 27:1988) dengan demikian akting harus ditumbuhkan dari kesadaran-kesadaran insani yang mengikat, kesadaran yang dimaksud itu adalah kesadaran estetis dan kesadaran etis. Kesadaran estetis; Lahirnya kesenian ditentukan oleh dorongan keindahan alami itu menjadi bentuk yang mewujud sebagai keindahan seni. Kesadaran etis berarti ia telah menerima pikiran yang hakiki, bahwa sumber segala keindahan itu adalah sang Ilahi, pencipta alam dan segala isinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal Mula Gestur &lt;br /&gt;Ketika aktor tertarik untuk menyelidiki tingkah-laku unik seseorang, dia juga perlu memperhatikan aspek-aspek tingkah-laku yang ada dalam masyarakat orang itu. Dia masih dapat melihat bahwa gestur-gestur nonverbal dari aksi-aksi di masa silam adalah tindakan yang dibutuhkan, penting, dan di pakai untuk hal-hal praktis. Perkembangan  manusia saat ini mengubah kebutuhan-kebutuhannya dan dengan demikian mengubah banyak tingkah-laku fisiknya. Satu situasi pada masa silam yang harus dipenuhi dengan aksi fisik, sekarang ini dapat diatasi dengan teknologi canggih. Tetapi impuls atau rangsangan dari tingkah laku praktis tersebut masih ada, hanya sekarang menjadi satu bentuk ekspresif yang tidak fungsional. Perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. secara sistematis gestur terbagi menjadi dua bagian, yaitu fisik dan vokal, yang dapat dilihat dan yang dapat didengar. Gestur vokal dibagi lagi menjadi verbal (mengucapkan kata-kata) dan nonverbal (bunyi-bunyi yang kita gunakan, termasuk infleksi (ling) atau jaringan dan penekanan yang mempengaruhi arti emosional dari kata-kata yang kita ucapkan). Karena penulis naskah akan memberikan gestur-gestur verbal dalam bentuk kata-kata di naskah, tugas si aktor adalah menyelidiki aspek-aspek nonverbal dari gestur karakter yang dimainkannya, gestur-gestur fisik, postur, infleksi, dan sebagainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gestur dan Komunikasi&lt;br /&gt;Ada gestur-gestur yang memberikan arti yang konsisten dalam situasi-situasi yang serupa. Dengan demikian berfungsi sebagai satu sistem simbolis atau tanda.  Yang istilahnya lebih dikenal dengan nama bahasa tubuh. seni komunikatif yang diciptakan gestur dapat beragam dari yang universal sampai yang paling aneh, bahkan bodoh. Gestur dapat menggantikan kata-kata atau mendukung kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Gestur&lt;br /&gt;Bahasa gestur dapat dibagi menjadi 4 kategori umum yaitu :&lt;br /&gt;                                                                       Ilustratif atau imitatif&lt;br /&gt;         Indikatif&lt;br /&gt;         Empatik&lt;br /&gt;         Austistik  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gestur yang sifatnya ilustratif adalah gestur yang disebut “Pantomimik” ketika mencoba mengkomunikasikan informasi spesifik atau bersifat khusus (“kontak itu besarnya setinggi ini dan selebar ini”). Gestur indikatif (berhubungan dengan bentuk verbal yang menggambarkan keadaan nyata), dipakai untuk menunjuk (“Di sebelah sana”). Gestur empatik memberikan informasi yang subjektif dari pada objektif, berhubungan bagaiman orang merasakan sesuatu (ketika kita mengatakan: “Sekarang, dengar aku!” sambil meninju kepalan tangan kita ke atas meja atau menunjuk jari kita kemuka  musuh). Gestur Autistik (arti harafiahnya “kepada diri”) tidak dimaksud untuk komunikasi Sosial tetapi lebih diutamakan untuk komunikasi dengan diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang yang sedang mendengar orang lain berbicara memiliki perasaan benci kepada lawan bicaranya tetapi harus menutupinya, maka dia akan melipat tangannya dengan rapat sekali dengan telapak masuk di sela-sela kedua ketiak di depan anda. Dengan tingkah laku rahasia ini, orang itu menyatakan aksi simbolis merasa puas ketika sedang mencekik lawan bicaranya. Walaupun gestur seperti itu sering tersembunyi, secara tidak sadar, sering kali orang di sekitar kita dapat mengenali dan merasakannya. Tentu saja realitanya keempat kategori ini tidak nyata terpisah tetapi sengaja dipisah untuk memudahkan pelajaran kita tentang gestur dan hampir semua gestur yang kita pakai adalah kombinasi dari dua atau tiga kategori di atas. (Eka D. Sitorus, hal. 81-82:2003). Tubuh harus sehat, tidak soal bagaimana bentuknya, apakah ia kurus, gemuk, buntet, jangkung. Sebab dengan tubuh yang sehat, harapan berhasilnya penampilan peran sesuai tuntutan TPR (Tubuh, Pikir, Rasa) akan bisa terpenuhi. Namun segera pula harus diingat, bahwa keadaan tubuh yang sehat itu bertalian erat dengan kemampuan yang beralas pada kemauan mengikuti latihan-latihan khusus, yakni terkoordinasi untuk melakukan tugas akting yang harus menurut ikatan-ikatannya dan berkembang leluasa menurut kemungkinan-kemungkinan tak terduga di mana ia melakukan improvisasi dengan leluasa.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAKTEK: &lt;br /&gt;1. Olah Tubuh&lt;br /&gt;Senam&lt;br /&gt;Menari&lt;br /&gt;Yoga&lt;br /&gt;Meditasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Olah Vokal &lt;br /&gt;Teknik melatih rongga mulut&lt;br /&gt;a. Pengucapan lafal yang benar&lt;br /&gt;b. Melatih kelenturan rahang bawah&lt;br /&gt;- Membuka rahang bawah selebar 3 jari&lt;br /&gt;- Gerakkan rahang bawah ke kanan dan ke kiri&lt;br /&gt;- Gerakkan rahang bawah ke depan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Melatih kelincahan lidah&lt;br /&gt;a. Memutar lidah ke kiri dan ke kanan&lt;br /&gt;b. Menjulurkan lidah keluar&lt;br /&gt;c. Menempel lidah ke langit-langit atas, kemudian tekan lidah bagian tengah kuat-kuat sehingga otot lidah bagian bawah sedikit terasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melatih kelenturan otot bibir&lt;br /&gt;a. Menarik kedua bibir ke dalam, kemudian tiuplah keluar kuat-kuat sehingga menimbulkan bunyi “puuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resonator (pita suara)&lt;br /&gt;Membantu menguatkan getaran suara sehingga menjadi suara yang kuat. Organ tubuh berfungsi sebagai resonator. &lt;br /&gt;a. Rongga mulut&lt;br /&gt;- Memproduksi suara yang jelas, dengan cara menarik ke bawah rahang bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rongga dada (letaknya antara tulang dada dengan tulang punggung sebelah belakang).&lt;br /&gt;mampu memproduksi suara yang rendah dan berat&lt;br /&gt;Ringga dada sebelah atas&lt;br /&gt;Rongga dada sebelah depan&lt;br /&gt;Rongga dada sebelah tengah&lt;br /&gt;Rongga dada bagian belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Rongga hidung&lt;br /&gt;- Penyaring udara masuk paru-paru mampu memproduksi suara sengau, antara lain: konsonan m, n, ny, ng. &lt;br /&gt;  Sedangkan untuk vokal dilarang menggunakan rongga hidung sebagai resonator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Latihan pernafasan&lt;br /&gt;- Menghirup udara melalui hidung sebanyak 4 ketukan kemudian udara ditahan 2 ketukan, setelah itu dihembuskan lewat mulut 4 ketukan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan tanpa terputus-putus sampai batas maksimum kelelahan pemain yang bersangkutan. Hal yang perlu diingat dalam latihan ini adalah mengusahakan agar setiap ketukan, waktu menghirup dan menghembuskan udara mengandung volume yang sama. Keculi itu waktu menahan nafas benar-benar paru-paru dalam keadaan tenang (tidak menghirup atau menghemnbuskan udara).setelah dikuasai, kemudian jumlah ketukan ditingkatkan dengan perbandingan kelipatan yang sama, yaitu n=1/2 (n=jumlah menghirup dan menghembuskan nafas, misalnya 6=3, 8=4, dan seterusnya, 1/2n= jumlah ketukan manahan nafas).&lt;br /&gt;- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan 4 ketukan dan dihembuskan 8 ketukan. Setelah dikuasai, jumlah ketukan pada waktu menahan dan menghembuskan udara ditingkatkan dengan kelipatan n=2n (n= jumlah ketukan manahan, 2n= jumlah ketukan menghembuskan udara), sedangkan waktu untuk menarik nafas tetap dalam hitungan waktu relatif singkat, sesingkat-singkatnya.&lt;br /&gt;- Menghirup udara sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat, kemudian ditahan sementara waktu atau tanpa dihitung dengan ketukan tetapi cukup dengan perasaan, kemudian dihembuskan dalam waktu relatif lama sesuai dengan kekuatan pemain yang bersangkutan. Dalam hal ini diusahakan agar volume udara yang dikeluarkan dari awal sampai akhir mengandung intensitas yang rata/sama. Usahakan jangan sampai terjadi adanya kesan dipaksakan sehingga mengakibatkan adanya ketegangan yang berlebihan pada alat-alat rongga badan.&lt;br /&gt;- Setelah ketiga cara tersebut benar-benar dikuasai agar dicoba lagi cara latihan tersebut di atas, tetapi pada waktu menghembuskan udara diganti produksi suara dengan vocal “a”, dengan urutan; saat menghirup dan menahan udara  sama dengan cara latihan di atas. Demikian seterusnya ditingkatkan untuk vocal yang lain e, i, o, u.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mula-mula hirup nafas banyak-banyak melalui hidung lalu hembuskan dengan sehabisnya. Diakhir hembusan sertai &lt;br /&gt;  dengan suara keras sehabisnya. Misalnya, “hah !” lakukan ini sebanyak 10 kali.&lt;br /&gt;- Lakukan hal yang sama, tetapi kini dengan menghitung, yaitu ketika menghirup, hitunglah setehap demi setahap&lt;br /&gt;  sampai 10 kali, lalu hembuskan pula dengan hitungan 10 kali. Jadi menghirup dan menghembus nafas, tidak seperti &lt;br /&gt;  yang pertama lagi.&lt;br /&gt;- Lakukan lagi pernafasan seperti yang kedua, tetapi kini dengan menaikkan kedua belah tangan pelan-pelan secara &lt;br /&gt;  berangsur-angsur dengan hitungan dari 1 sampai 10, lalu turunkan juga pelan-pelan dan berlangsung secara &lt;br /&gt;  berangsur dari 1 sampai 10 (jadi ketika mengambil nafas tangan dinaikan dan ketika mengeluarkan nafas, tangan &lt;br /&gt;  diturunkan). Di akhir hitungan sertai kembali suara keras sehabisnya, “hah !” &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Latihan Menyanyi&lt;br /&gt;  -Belajar menempatkan suara dengan nada &lt;br /&gt;*Mendeklamasi&lt;br /&gt;- Coba baca dan hafalkan salah satu puisi dengan cara datar saja, tetapi juga dengan keras-keras, tanpa emosi apa- &lt;br /&gt;  apa. Perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam emosi.&lt;br /&gt;- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi dengan cara memenggal suku kata demi suku kata sehingga terkesan puisi &lt;br /&gt;  itu hanya sebagai rangkaian yang putus-putus-perhatikan perkembangan bagaimana yang terjadi dalam kehendak.&lt;br /&gt;- Baca dan hafalkan pula salah satu puisi sambil meminta 4 orang menarik-narik tubuh kearah yang berlawanan; dua &lt;br /&gt;  orang menarik-narik kedua tangan ke arah utara, dan dua orang lainnya menarik-narik kedua kaki ke arah selatan-&lt;br /&gt;  perhatikan perkembangan kosentrasi yang terjadi dalam kemajuan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Panca Indra&lt;br /&gt;*Indra Lihat; &lt;br /&gt;- Melihat dalam membayang orang yang sedang bunuh diri dengan jalan menggantung lehernya di atas dapur.&lt;br /&gt;- Membayangkan mata sedang melihat seorang perempuan tua sedang menyeberang jalan lalu tiba-tiba sebuah mobil &lt;br /&gt;  menabraknya, dan ia terpental, kepar-kepar, mati.&lt;br /&gt;- Membayangkan mata sedang melihat seorang telanjang bulat , ia mungkin gila, ia mungkin pacar, ia mungkin model &lt;br /&gt;  yang tengah dilukis oleh pelukis.&lt;br /&gt;- Membayangkan mata sedang melihat seorang anak balita lepas dari tangan ibunya lantas berlari kejalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Indra Dengar&lt;br /&gt;- Membayangkan telinga sedang mendengar ban mobil selip di tikungan lalu meanbrak tiang listrik.&lt;br /&gt;- Membayangkan telinga sedang mendengar orang berteriak minta tolong karena terhanyut di sungai&lt;br /&gt;- Membayangkan telinga sedang mendengar lolong anjing di malam hari lantas ia merasa terasing dan gamang.&lt;br /&gt;- Membayangkan telinga sedang mendengar burung peliharaan berkicau dan hati merasa plong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Indra Cium&lt;br /&gt;- Membayangkan hidung sedang membau aroma sambel goreng terasi.&lt;br /&gt;- Membayangkan hidung sedang membau comberan yang mampet di musim kemarau dan ia duduk menghadapi   &lt;br /&gt;  hidangan makan siang.&lt;br /&gt;- Membayangkan hidung sedang membau keringat orang di sebuah kendaraan umum yang sesak.&lt;br /&gt;- Membayangkan hidung sedang membau parfum yang digunakan oleh seorang yang berkesan dalam dirinya.&lt;br /&gt;- Membayangkan hidung sedang membau durian, baunya dibuka di hadapannya, dan ia tidak suka bau ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Indra Kecap&lt;br /&gt;- Memperagakan sedang mencicipi makanan yang pertama kali dikenal.&lt;br /&gt;- Memparagakan sedang menikmati sesuatu yang tidak enak, ingin muntah, tetapi menghormati tuan rumah yang &lt;br /&gt;  menghidangkannya.&lt;br /&gt;- Memperagakan orang yang sedang kepedasan oleh lombok dan minum air panas.&lt;br /&gt;- Memperagakan sedang mengunyah onde-onde yang gulanya masih panas.&lt;br /&gt;- Memperagakan bagai mana seorang koki mengecap makanan di atas api kompor,apakah sudah pas bumbu-&lt;br /&gt;  bumbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Indra Rasa&lt;br /&gt;- Memperagakan bagaimana dipeluk oleh orang yang tidak disukai.&lt;br /&gt;- Memperagakan bagaimana rasa tubuh di ruang AC yang sangat dingin dan ia berpenyakit asma.&lt;br /&gt;- Memperagakan bagaimana rasa dibelai kekasih, dicium di leher dan sekonyong datang orang yang lebih berhak.&lt;br /&gt;- Memperagakan bagaimana rasa menunggu terlalu lama di sebuah ruang yang sangat panas.&lt;br /&gt;- Memperagakan bagaimana rasa tubuh ditarik oleh seorang anak yang merengek minta dibelikan es krim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-7127549017931743119?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/7127549017931743119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/seni-peran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7127549017931743119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/7127549017931743119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/seni-peran.html' title='Seni Peran'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-5422640002387297993</id><published>2011-06-02T16:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T16:36:42.969-07:00</updated><title type='text'>Konsep Penyutradaraan</title><content type='html'>Konsep &lt;br /&gt;“I mangge Mpobilisi”&lt;br /&gt;Karya Ashar Yotomaruangi Sutradara M.Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya kehidupan tradisi kita kian rapuh&lt;br /&gt;begitu banyak usaha, terutama dalam bentuk pertunjukan&lt;br /&gt;baik teater, musik, tari, yang mengangkat kebudayaan lokal&lt;br /&gt;dan kurang mendapatkan perhatian&lt;br /&gt;Sudah demikian berurat akar di dalam kehidupan masyarakat kita?&lt;br /&gt;Adakah tradisi yang kita agul-agulkan yang selalu membuat diri kita menepuk dada sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai adiluhung&lt;br /&gt;sebagai khasanah kehidupan kita masih berfungsi untuk menahan laju, atau minimal menciptakan suatu cara berpikir kritis, jernih, dan mendalam demi kemajuan seni dan kebudayaan lokal&lt;br /&gt;Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. berangkat dari motto inilah pertunjukan berbahasa kaili akan dipentaskan, sebab bahasa tidak lepas dari ciri, watak, yang menggambarkan kepribadian diri seseorang di mana ia lahir dan dibesarkan. Teater berbahasa kaili tentunya masih begitu asing untuk dipentaskan, mengingat kota Palu tidak hanya didiami suku kaili saja. Hal tersebut bukanlah kendala melainkan motivasi dan tugas kita bersama mengangkat bahasa kaili kepermukaan. Kita harus berani bermimpi, karena dengan mimpi kita akan terus terpacu unuk melakukan berbagai hal (Rusdi Mastura, 2011: 94).  &lt;br /&gt;Peristiwa teater selama ini hanya berpusat di kota tanpa melibatkan masyarakan pinggiran kota. Dengan adanya teater berbahasa kaili yang terjun ke desa-desa, kaki-kaki gunung, sudah barang tentu akan lebih mempererat  psikologis dan sosiologis dengan masyarakat setempat. Beberapa alasan dan opini di atas yang sebenarnya menjadi kegelisahan, stimulan sekaligus motivasi Sanggar Seni Lentera untuk kembali membuat pementasan. Maka untuk menjawab kerinduan publik teater di Kota Palu, SSL akan muncul dengan produksi teater berbahasa Kaili. SSL kembali menyuguhkan dengan format ”Teater Berbahasa Kaili” dengan konsep ruang pemanggungan out door,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan Teater berbahasa Kaili dengan juduI  “I Mangge Pobilisi” karya Ashar Yotomaruangi akan dipentaskan keliling dari kampung ke kampung. Pilihan tempat pementasan Sanggar Seni Lentera out door setting yang digunakan merespon ruang yang ada. Anggaplah ini sama halnya mengunjungi rumah sendiri dan mengakrapinya. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Peristiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan di luar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Singkat Organisasi &lt;br /&gt;Sanggar Seni Lentera &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodalkan pengalaman, semangat, kemauan, keberanian dan kemampuan, Musa Abdul Kadir, Husen Abdul Kadir, Petrus. Mendirikan organisasi seni yang diberi nama Sanggar Seni Lentera (SSL). Tepatnya ditahun 1993. Ketiga pendiri menyatukan idiologi merangkum segala unsur seni baik teater, musik dan tari. Pengalaman membentuk pendewasaan diri untuk bepikir, berbuat, dan bertindak dalam mengambil keputusan dengan bijak. Pengalaman pula yang menentukan perbedaan ciri khas yang melahirkan teknik dan gaya pemanggungan. Dari pengalaman inilah lahir pengkayaan seni yang tumbuh dan berkembang di Kota Palu. SSL dengan pengalamannya memberanikan diri mengepakkan sayap mengajarkan pengetahuan seni ke tingkat Sekolah Menengah Atas, antara lain SMKN 3, SMKN 2, SMKN 1, SMAN 3 dan perekrutan anggota baru yang dianggap berkompoten di bidangnya. Kemudian dikukuhkan menjadi anggota SSL, yang nantinya mengajarkan seni di sekolahnya masing-masing. Lahirnya keinginan ini, disebabkan kian maraknya tauran antar sekolah. Maka kami memutuskan untuk terjun langsung di beberapa sekolah yang rawan akan konflik dan mendidik para siswa/siswi mengasa kemampuan daya khayalnya untuk mencipta karya seni. SSL dikenal sebagai dapur seni, yang melahirkan generasi muda yang sebelumnya awam tentang kesenian sampai pada akhirnya mampu untuk mandiri mencari jati diri.     &lt;br /&gt;Beberapa repertoar pertunjukan teater (historiografi) yang pernah diproduksi antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000  : “AUM” karya Putu Wijya&lt;br /&gt;1999  : “RAJA MAHDIA” karya Irwan Pangeran&lt;br /&gt;2000  : “WARNA-WARNI” karya Irwan Pangeran&lt;br /&gt;2002  : “KEPALA BATU BATU KEPALA” kaya Toto dan Naim, Dj&lt;br /&gt;2002  : “BELENGGU AIR” karya Toto&lt;br /&gt;2003  : ”TOMANURU” karya Ria/Musa&lt;br /&gt;2002  :  “TAIGANJA” karya Musa&lt;br /&gt;      “SANDO” karya Hidayat Lembang&lt;br /&gt;2001  : ”PRAHARA GERILYA” karya Musa&lt;br /&gt;  : ”DOR” karya Putu Wijaya&lt;br /&gt;2010  : “BOS” Karya M. Noerdianza&lt;br /&gt;2010  : “TOPOGENTE” Karya Ashar Yotomaruangi&lt;br /&gt;2011  : “KEHIDUPAN GALILEI” Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht &lt;br /&gt;      Terjemahan Frans Rahardjo &lt;br /&gt;2011  : “DIAM” Judul asli “Le Silence” karya: Jean Murriat Saduran; Bagdi Soemanto&lt;br /&gt;2011  : “I MANGGE MPOBILISI” karya Ashar Yotomaruangi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang pengarang&lt;br /&gt;.??????????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Analisis Lakon &lt;br /&gt;Setelah melakukan penggalian latar belakang pengarang ditemukan bahwa naskah drama “Imangge Mpobilisi” ditulis di Palu pada tahun .... Sebelumnya naskah ini pernah dipentaskan di Gedung tertutup Taman Budaya dalam rangka “Technokrat Art Show 2010”, tetapi sangat disayangkan bahasa kaili kehilangan makna dan keunikan pengucapannya karena dibenturkan dengan bahasa Indonesia, sehingga pertunjukan berbahasa kaili kehilangan ruh dan keunikan serta warna dan bentuknya ketika dibenturkan dengan bahasa Indonesia. Patut diketahui bahwa Inti dari segala kemajuan adalah terbangunnya watak. Ini bukan keegoan diri melainkan sebagai penghargaan terhadap leluhur yang telah menelurkan kepada kita dan kita patut mengangkatnya kepermukaan, menjaga serta melestarikannya. &lt;br /&gt;Dari penelitian ini dapat dilacak bahwa naskah drama “I mangge Mpobilisi” gaya penulisannya komedi satir, mengangkat realitas sosial suku Kaili, (aliran realis suryalis) Karya seni harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Karya seni bersifat luas, peristiwa dan peran yang dipentaskan harus melambangkan dan “mengandung” unsur universal (sifat umum) dalam metode atau cara individu, yaitu unsur yang khas manusiawi yang seolah-olah berlaku pada segala masa dan segala tempat. Dengan begitu karya seni diharapkan menjadi lambang atau simbol yang maknanya harus dapat ditemukan dan dikenali oleh si penggemar karya seni itu. Berdasarkan pengalamannya sendiri entah ia dalam posisi sebagai sutradara, pemain, ataupun penonton. Sebelum menganalisis struktur dan tekstur yang terkandung dalam naskah drama “I mangge Mpobilisi” karya Ashar Yotomaruangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I mangge Mpobilisi” Dalam bahasa Kaili I penegasan dia laki-laki, kata Paman dipanggil dengan sebutan Mangge, sementara Mpobilisi, yakni selalu marah. Secara etimologis atau asal kata “I mangge Mpbilisi” yaitu paman yang selalu marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik.  Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.   &lt;br /&gt;Analisis Struktur&lt;br /&gt;Plot/ alur&lt;br /&gt;Alur dalam naskah drama “I mangge mpobilisi” tiga babak Awal,tengah, akhir. Naskah drama karya Ashar Yotomaruangi ini menyinggung realitas sosial masyarakat suku kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah. Sifat dan watak orang-orang Kaili yang keras dan tegas dan sangat disegani warga kampung sekitar, namun sebenarnya dibalik kekerasan dan ketegasannya tersimpan sifat perhatian dan kelembutan yang begitu besar daripada sifat kekerasannya. Lebih parahnya lagi,  I mangge tukang tidur, setiap warga yang datang ribut-ribut di saat I mangge tertidur, jangan coba-coba, kau akan dimarahinya. I mangge memiliki seorang anak laki-laki bernama Yojo, yang sedang melakukan studi di Jakarta, di Jakarta Yojo bertemu dengan Enge juga sekampung dengan Yojo. Setelah Yojo dan Enge menyelesaikan studinya di Jakarta, Yojo dan Enge segera pulang ke kampung halaman bersama-sama dan mengajak Enge silaturahmi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, warga kampung menjemput kehadirannya. Tetapi sayang karena merasa gengsi baru pulang dari Ibu Kota Jakarta, Yojo berpura-pura tidak mengenal warga kampung sekitar. Lebih parahnya lagi Yojo dan Enge sudah melupakan adatnya, kehilangan etika berbicara dengan dialeg Jakarta dengan I Mangge dan Ina (istri I mangge). Karena merasa kesal mendengar Yojo berbicara ala Jakarta yang semakin membingungkan I Mangge, akhirnya I Mangge naik pitam, dan memukul Yojo dengan cambuk kuda, karena tidak tahan dengan rasa sakit Yojo langsung refleks memeluk kaki I Mangge sambil memohon ampun dengan bahasa Kaili. Karena takut Enge juga meminta ampun dengan bahasa Kaili. Emosi I mangge mulai redah, dan membujuk Yojo untuk menikah dengan Dei. Tetapi Yojo tidak mau dijodohkan dengan Dei, Yojo tetap berkeras lebih memilih Enge, I mangge kembali marah karena Yojo tidak mendengarkan perintahnya dan mengusir Yojo dari rumahnya..akhirnya Yojo pergi meninggalkan rumahnya dengan tangis kesedihan, baru berapa langkah meninggalkan rumah I mangge terjatuh karena sakit jantung yang dideritanya, Yojo berbalik sambil berlari menghampiri I mangge sambil memeluk I mangge dengan tangisan dan penyesalan yang mendalam.   &lt;br /&gt;Karakter &lt;br /&gt;Imangge &lt;br /&gt;Psikologisnya :Tegas dan keras&lt;br /&gt;Sosiologis : Orang terpandang dan disegani dikampungnya, memiliki berhektar tanah, akhirnya jatuh &lt;br /&gt;  miskin   &lt;br /&gt;Fisiologis : Umur 50 tahun, kekar, berkumis panjang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinana (istri Mangge)&lt;br /&gt;Psikologis : Penyayang, keras, &lt;br /&gt;Sosiologis : Ibu rumah tangga&lt;br /&gt;Fisiologis :Umur 43 tahun, gemuk, kulit saumatanag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yojo &lt;br /&gt;Psikologis : Penakut dan sombong&lt;br /&gt;Sosiologis : Seorang mahasiswa&lt;br /&gt;Fisiologis : Umur 25 tahun, kukit kuning langsat, rambut hitam lurus, hidung tinggi.&lt;br /&gt;Dei  &lt;br /&gt;Psikologis : Penakut&lt;br /&gt;Sosiologis : Kelas menengah, seorang mahasiswa&lt;br /&gt;Fisiologis :Tinggi kurus, Umur 24 tahun, hidung pesek, kulit kuning langsat,rambut lurus panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambako1&lt;br /&gt;Tambako 2&lt;br /&gt;Kabilasa 1&lt;br /&gt;Kabilasa 2&lt;br /&gt;Kobilasa 3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tema &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat derasnya arus globalisasi adat terlupakan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Analisis Tekstur Lakon  &lt;br /&gt;Naskah drama adalah pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir naskah terlebih dahulu memahami tekstur. Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog  &lt;br /&gt;Drama ini memperlihatkan suatu gaya penulisan dengan ungkapan keseharian. Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon.  Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama.  Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital,  atau garis bawah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mood &lt;br /&gt;Mood adalah suasana. Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik.  Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya.  Penghadiran suasana dalam naskah drama “Imangge Mpobilisi” suasana perkampungan menggambarkan aktivitas keseharian warga kampung yang terlihat polos dan jujur bahkan terlihan over akting..&lt;br /&gt;Spektakel &lt;br /&gt;Melalui pencermatan naskah drama “Imangge Mpobilisi” Spektakel terdapat pada Set panggung dan dialeg aktor yang menggunakan bahasa Kaili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realis Surealis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisme &lt;br /&gt;Realisme dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir. Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran objektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula. Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987). Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan. Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surealisme&lt;br /&gt;Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an. Surealisme merupakan seni dan penulisan yang paling banyak dikenal. Karya ini memiliki unsur kejutan, barang tak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Banyak seniman dan penulis surealis yang memandang karya mereka sebagai ungkapan gerakan filosofis yang pertama dan paling maju. Karya tersebut merupakan artefak, dan André Breton mengatakan bahwa surealisme berada di atas segala gerakan revolusi. Dari aktivitas Dadaisme, surealisme dibentuk dengan pusat gerakan terpentingnya di Paris. Dari tahun 1920-an aliran ini menyebar ke seluruh dunia. Surealisme memengaruhi film seperti Angel's Egg dan El Topo. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire dalam catatan program yang menjelaskan balet Parade, yang merupakan karya kolaboratif oleh Jean Cocteau, Erik Satie, Pablo Picasso dan Léonide Massine: "Dari persekutuan baru ini, hingga sekarang, perlengkapan dan kostum panggung di satu sisi dan koreografi di sisi lain hanya ada persekutuan pura-pura di antara mereka, terjadi sejenis super-realisme ('sur-réalisme') di Parade, di mana saya melihat titik mula serangkaian manifestasi semangat baru ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-5422640002387297993?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/5422640002387297993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/konsep-penyutradaraan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5422640002387297993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5422640002387297993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/06/konsep-penyutradaraan.html' title='Konsep Penyutradaraan'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-964032355568725963</id><published>2011-05-23T10:19:00.000-07:00</published><updated>2011-05-23T10:22:14.278-07:00</updated><title type='text'>“PARADE KARYA TARI DAERAH 2011 KEHILANGAN KEDAERAHANNYA”</title><content type='html'>M. Noerdianza&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Parade Tari Daerah adalah program tahunan Dinas Pariwisata Propinsi, cukup mendapat respon positif dari para kreografer Kota dan Kabupaten di Sulawesi Tengah. Pertarungan ide yang positif membuat seni tari di Sulawesi Tengah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Konon kabarnya, kota Palu dulunya sebagai barometer kesenian bagi para pecinta seni di Kabupaten, kini bergeser seratus delapan puluh derajat, terbukti pada parade teater tahun lalu tepatnya di tahun 2010, garapan terbaik satu di berikan kepada Buol, terbaik dua Luwuk, dan terbaik tiga jatuh ke Kabupaten Poso. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan, apa gerangan yang terjadi. Apakah para kreografer tari dan para penarinya kehilangan semangat mengembangkan seni budayanya, atau karena persoalan klasik yang terus - menerus terjadi antara birokrasi terkait dan senimannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa bodoh, seberapa jauh kau mencintai dan memahami tradisi di Daerahmu, tunjukan dulu konsep karyamu baru boleh menuntut .!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau karena seniman tari sendiri belum memahami betul seni budaya tradisi di Daerahnya, atau karena pengaruh derasnya arus globalisasi mengalir begitu cepat kekehidupan sosial kita, sehingga pemikiran-pemikiran kita tentang tradisi terkikis sedikit demi sedikit lalu lenyap begitu saja. Atau hanya karena mencari nama semata biar dibilang kreografer tari. Kasihan...   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Para kreografer tari patut dipertanyakan tentang kemampuan pemahaman tari, tidak hanya sebatas penciptaan gerak, levelitas dan komposisi saja, melainkan konsep sebuah garapan, contoh kasus yang terjadi pada “Parade Karya Tari Daerah Tahun 2010,” Kabupaten Buol kehilangan kedaerahannya, yang muncul malahan budaya jawa; nampak dari kostum, make up, dan gaya komedialnya, sementara gaya penarinya pun ala Semar. Harus dipertanyakan, apakah ini parade tari Daerah Sulawesi Tengah atau Parade Tari JaSu (Jawa Sulawesi). Istilah modernnya “cross culture” (silang budaya), kalau memang demikian, konsep temanya harus diperjelas dong.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling menariknya lagi tidak pernah ada di temukan di Indonesia, adalah sikap kekeluargaan tradisi daerah yang begitu kental, sehingga garapan-garapan tari daerah bisa diwakili siapa saja. Donggala mayoritas penari dan kreografer orang Palu, Bangkep juga mayoritas orang Palu. Parigi juga demikian. Tidak ada salahnya jika demikian, tetapi yang menjadi persoalan para kreografer tari belum memahami budaya lokal daerah tertentu. Timbul lagi sebuah pertanyaan kenapa bisa demikian? Ya, tidak lain tidak bukan, untuk penghematan dana buat pembeli susu. Apakah sikap demikian patut dikatakan sebagai seniman/budayawan Kota Palu. Tidak salah lagi, bahwa “Parade Karya Tari Daerah” bukan ajang pencarian minat bakat generasi sebagai pondasi dan tonggak tumbuh dan berkembangnya tradisi budaya lokal daerah setempat. Melainkan dijadikan sebagai ajang Proyektor (proyek kotor)..para birokrasi tertentu.&lt;br /&gt;Kalau memang Parade Karya Tari daerah konsumsinya Pariwisata ya tunjukanlah budaya lokal kedaerahanmu, bedahalnya dengan festival tari kreasi Daerah yang lebih menonjolkan kreativitas yang tentunya berangkat dari tradisi budaya lokal, sebab kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ke depan gerakan kesenian berbasis lokal dapat mejadi perhatian bersama, yaitu sisi penyiapan sosial komunitas (social preparation) sebagai bagian dari pengembangan masyarakat (community Development) dan pengembangan ekonominya (economy development). Upaya ini harus mampu mendorong masyarakat bangkit dan berubah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-964032355568725963?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/964032355568725963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/05/parade-karya-tari-daerah-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/964032355568725963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/964032355568725963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/05/parade-karya-tari-daerah-2011.html' title='“PARADE KARYA TARI DAERAH 2011 KEHILANGAN KEDAERAHANNYA”'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-3343788068144871931</id><published>2011-05-19T23:41:00.001-07:00</published><updated>2011-05-19T23:44:58.956-07:00</updated><title type='text'>pertunjukan "Galilei"</title><content type='html'>“KEHIDUPAN GALILEI”&lt;br /&gt;Judul Asli “Leben des Galile” karya Bertolt Brecht &lt;br /&gt;Terjemahan Frans Rahardjo Sutradara M. Noerdianza &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di Kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sukses mementaskan lakon “BOS” karya M. Noerdianza di Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah dan “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi di Cak Durasim Surabaya.tahun 2010.  SSL akan kembali mementaskan dua karya dalam semalam, dalam lakon “Diam” dan “Kehidupan Galilei”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret Galileo Galilei&lt;br /&gt;Galileo Galilei lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak ,masa kecil, kemudian ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronom sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung Galilei Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengancam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622 yang kemudian diterbitkan pada 1623, pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo Sopra I due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno a due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total.     &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Galileo Galilei meninggal ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya di Arcetri, Toscana, pada 8 Januari 1642 pada umur 77 Tahun Galileo adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiyah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi dan hukum gerak pertama dan kedua dinamika. Selain itu, Galileo Galilei juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernikus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat pandangannya disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan dijauhkan kepengadilan gereja Italia tanggal, 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan tahanan rumah sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa gereja katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi iya telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat dibelanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3 x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. pada 25 agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain  karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk untuk membuat pelayaran. Pengamatan astronomnya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610 berjudul Sidereus Nuncius   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter- Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610, empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede, ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom TiongHoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada dipermukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan adalah bola sempurna. Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicolaus Copernicus &lt;br /&gt;Lahir di kota Torun, Polandia, 19 Februari 1473 wafat di kota Frombork, Polandia, 24 Mei 1543 pada usia 70 tahun adalah seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrime, yaitu teori yang berpendapat bahwa matahari bersifat stasioner posisinya tetap dan berada pada pusat alam semesta. Teorinya tentang matahari sebagai pusat Tata Surya, telah menjungkirbalikan teori geosentrisme, yaitu teori yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus ini dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan ilmu pengetahuan modern. Teori ini menimbulkan revolusi ilmiah.                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Agustus 1956 Bertolt Brecht meninggal pada usia 58 tahun. Penyair Jerman dengan nama lengkap Eugen Bertolt Friedrich Brecht ini lahir di kota Augsburg pada 10 Februari 1898. Ia anak seorang direktur perusahaan kertas. Pada awal kariernya, yakni ketika ia berusia 14 tahun sudah menulis sajak dengan judul Pohon yang Terbakar (Derbrennende Baum). Kemudian dengan menggunakan Pseudonim Eugen Brecht ia tulis naskah drama berjudul alkitab (Die Bibel) pada majalah sekolah Die Ernte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perang dunia 1 pecah tahun 1914, Brecht masih duduk di SMA dan mulai aktif menuliskan sajak-sajak patriotik, juga pada lembaran-lembaran kartu pos. Pada tahun yang sama sejak Brecht pertama kali dimuat koran local Augsburger Neuesten Nachrichten. Ketika Brecht menginjak usia 16 tahun telah menulis sajak sindiran untuk orang-orang kaya termasuk keluarganya. Sajak  yang pernah dipublikasikan tersebut sebagai berikut : Aku lahir sebagai anak laki-laki/orang-orang kaya termasuk orang tuaku mengikatku dengan kerah baju, begitulah aku dididik/kebiasaan yang selalu dilayani/dan diajari cara memerintah. Tapi/setelah aku dewasa dan bisa sadar diri/tak tertarik orang-orang disekitarku/tak mau memerintah dan diperintah/dan aku tinggalkan kelasku, lalu menggabungkan diri dengan rakyat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bangku SMA, Brecht dikenal sebagai siswa yang bandel, bahkan dijuluki oleh gurunya sebagai Enfant Terrible.setamat SMA Brecht melanjutkan kuliah mengambil jurusan kedokteran di universitas Ludwig Maximilian Munich.  Kuliahnya pun akhirnya gagal, karena ia tak pernah masuk, di samping suasana perang makin mencekam. Menurut kritikus  sastra di jerman, Marcel Reich-Ranicki pada bukunya berjudul Nachprufung (Menguji ulang), bahwa karya drama Brecht  sering di pengaruhi oleh latar Negara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, drama yang pertama kali diakui publik berjudul “Mann ist Mann” (Lelaki adalah Lelaki) terpengaruh latar india. Drama berlatar Rusia berjudul “Mutter” (ibu). Drama berlatar London berjudul “Dreigrochenoper” (tiga opera picisan), sedang drama berlatar Chicago berjudul “Heilige” Johanna (yohanna yang suci). Proses kreatif Brecht menurut Ranicki, ia tak hanya genius, namun juga bekerja cepat secara terus menerus. Naskah yang sudah jadi, sering kali dicoret dan dibuang. Bagi Brecht pementasan drama di panggung ibarat sebuah potret. Dan potret itu harus bisa dilihat penonton dengan sangat jernih. Sebab itu Brecht dikenal seorang dramaturgi yang jeli melihat setiap mimik, gerak tubuh, kata, serta sosok. Dengan kata lain pementasan di panggung harus seindah puisi. Drama menurutnya sebagai forum berdebat dan bukan sebagai tempat ilusi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1920 ibu Brecht meninggal dan sejak itu ia pergi dari rumahnya serta menyewa apartement di Munich bersama Marianne Zoff, penyanyi asal sekotanya Augsburg. Pada tahun 1922 mereka kawin. Pada tahun 1923 pasangan ini dikaruniai anak perempuan bernama Hanne Marianne. Ketika anaknya meninggal, Brecht marah dan mengumpat, Ruh sudah turun dari Marianne Zoff…,sundel ini harusnya tak punya anak, anaku berasal darinya, tapi ia tak memiliki hati yang bersih. Pada tahun 1927 pasangan ini cerai. Zoff kala itu menjadi pemain drama terkenal. Tak hanya Goethe sebagai penyair yang digemari banyak perempuan hingga punya delapan pacar. Brecht pun demikian. Ia dikelilingi banyak perempuan. Salah satu yang memikat hatinya adalah, seorang perempuan Yahudi juga pemain drama bernama Helene Weigel. &lt;br /&gt;Pada tahun1928 ia kawin dengan Weigel. Dua tahun kemudian pasangan baru ini mendapat seorang pasangan bernama Maria Barbara.&lt;br /&gt;Brecht tergolong penyair dan dramaturgi yang sangat produktif. Beberapa naskah dramannya yang paling sering mendapat banyak pujian masyarakat luas  berjudul Baal, Trommel in der Nacht (Genderang Malam), dan Dreigroschenoper (Tiga Opera Picisan), Lebendes Galilei (Kehidupan Galilei), serta Mutter Courage und ihre Kinder ( Ibu Courage dan Anak-anaknya). Akan tetapi Gerhard Szczesny pada bukunya berjudul Brecht, Leben des Galilei mengkritik Brecht, kalau Brecht telah membelokan alur kehidupan Galilei ke dalam kehidupannya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-3343788068144871931?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/3343788068144871931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/05/pertunjukan-galilei.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/3343788068144871931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/3343788068144871931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2011/05/pertunjukan-galilei.html' title='pertunjukan &quot;Galilei&quot;'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-6567454917888857261</id><published>2010-06-28T07:29:00.001-07:00</published><updated>2010-06-28T07:29:42.629-07:00</updated><title type='text'>Topogente sutradara M. Noerdianza</title><content type='html'>Latar belakang munculnya absurditas&lt;br /&gt;Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas Tentang Absurd&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd.  Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal. &lt;br /&gt;Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Analisis Naskah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut  sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?”  “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia  adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan  Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi.  Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….&lt;br /&gt;  ................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karakter &lt;br /&gt;Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1   : Psikologis: Tegas. &lt;br /&gt;                 Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;                 Fisiologis : Tinggi kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2  : Psikologis: Mudah marah &lt;br /&gt;        Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata&lt;br /&gt;                Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan    &lt;br /&gt;       Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;       Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban  keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.    &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”   &lt;br /&gt;Tekstur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog&lt;br /&gt;Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.&lt;br /&gt;Lelaki 1  : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Suasana&lt;br /&gt;Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektakel&lt;br /&gt;spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting / latar&lt;br /&gt;Waktu  : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.&lt;br /&gt;Tempat  : Tanah lapang &lt;br /&gt;Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis&lt;br /&gt;Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-6567454917888857261?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/6567454917888857261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente-sutradara-m-noerdianza_28.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6567454917888857261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6567454917888857261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente-sutradara-m-noerdianza_28.html' title='Topogente sutradara M. Noerdianza'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-799924705006808839</id><published>2010-06-28T07:26:00.000-07:00</published><updated>2010-06-28T07:27:02.325-07:00</updated><title type='text'>Topogente sutradara M. Noerdianza</title><content type='html'>Latar belakang munculnya absurditas&lt;br /&gt;Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas Tentang Absurd&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd.  Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal. &lt;br /&gt;Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Analisis Naskah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut  sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?”  “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia  adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan  Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi.  Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….&lt;br /&gt;  ................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karakter &lt;br /&gt;Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1   : Psikologis: Tegas. &lt;br /&gt;                 Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;                 Fisiologis : Tinggi kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2  : Psikologis: Mudah marah &lt;br /&gt;        Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata&lt;br /&gt;                Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan    &lt;br /&gt;       Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;       Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban  keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.    &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”   &lt;br /&gt;Tekstur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog&lt;br /&gt;Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.&lt;br /&gt;Lelaki 1  : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Suasana&lt;br /&gt;Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektakel&lt;br /&gt;spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting / latar&lt;br /&gt;Waktu  : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.&lt;br /&gt;Tempat  : Tanah lapang &lt;br /&gt;Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis&lt;br /&gt;Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-799924705006808839?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/799924705006808839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente-sutradara-m-noerdianza.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/799924705006808839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/799924705006808839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente-sutradara-m-noerdianza.html' title='Topogente sutradara M. Noerdianza'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-4412744861604775041</id><published>2010-06-28T07:25:00.000-07:00</published><updated>2010-06-28T07:26:30.313-07:00</updated><title type='text'>Topogente</title><content type='html'>Latar belakang munculnya absurditas&lt;br /&gt;Konsep absurd dalam sastra dan teater tampak bermula dari esai yang ditulis oleh Albert Camus dengan judul “Le myth de sysiphe” dan novelnya “L’ estranger” (dasar pengulangan peristiwa tanpa makna) sekitar tahun 1920-an, kematian manusia menjadi persoalan yang harus dipertanyakan. Perang Dunia I dan kesepakatan perdamaian antara mereka yang berperang dan akhir Revolusi Rusia menunjukkan tidak ada kepercayaan pada setiap langkah yang diputuskan manusia. Tahun 1950-an bahasa telah kehilangan keabsahannya dan saat itu penonton sangat menyukai teater absurd sebagai seni popular yang memiliki obsesi pada pemikiran dan pengulangan yang konyol. Ionesco merasakan bahwa sebelum kehidupan menyembuhkan misteri dan makna hidup, kehampaan harus benar-benar dijelajahi. Dalam esainya yang berjudul “Notes et Countre notes” Ionesco menulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk merasakan absurditas yang sebenarnya, absurditas kekonyolan bahasa telah berkembang mendahuluinya. Untuk menggapainya pertama kali kita harus membenamkan diri kita di dalamnya. Apa yang sebenarnya lucu adalah apa yang ada dalam kondisi aslinya; tak ada yang tampak mengejutkan bagiku kecuali kekonyolannya; surialislah yang muncul di antara genggaman tangan kita, diperbincangkan kita keseharian.” (Yudiaryani, 2002: 275-276).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas Tentang Absurd&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk absurd dan cara menjalankan hidup pun dengan cara yang absurd.  Setiap kata mencerminkan awal dan akhir permasalahan. Sikap tubuh aktor menunjukkan tehnik tersebut, yaitu sikap aktor yang sering membungkuk, sikap jongkok, dan gerak memutar, yang semuanya itu menunjukan tentang kehidupan awal dan akhir manusia. Absurd berarti ketiadaan, yang menunjukan keadaan tidak harmonis, pengulangan peristiwa tanpa makna. Menunjukkan manusia dalam kondisi “alienasi.” Maksud dari alienasi, yakni suatu formula baru dikemukakan Brecht berkaitan dengan masalah antar aktor dan penonton adalah penghancuran oleh beberapa metode teknis yang biasa dinamakan ilusi teaterikal sehingga menghalangi keterlibatan emosi penonton dengan pertunjukan. Dengan kata lain alienasi adalah pengasingan diri. Dalam sebuah pertunjukan teater alienasi ditampakkan melalui gejala dialog antar tokoh melompat-lompat, tidak ada alur atau ada alur tetapi melingkar-lingkar, tidak ada pemecahan masalah secara tuntas. Penyajian tokoh yang dalam keadaan tertindih oleh kondisi yang tidak dapat dijelaskan, dan pemanfaatan nebentext lakon secara maksimal untuk menampilkan medium non verbal. &lt;br /&gt;Teater absurd terkandung di dalamnya unsur tragedi dan komedi sekaligus. Di sana ada penyajian peristiwa lucu dan menyedihkan seperti tampak pada prilaku badut-badut dalam pertunjukan sirkus. Walaupun tetap ditulis dengan kata-kata lakon absurd merupakan manifestasi sikap anti kata dan anti sastra, yang sudah dapat dibayangkan dari teks dramatiknya, inilah yang menjadikan sifat lakon absurd paradoksal. (Bagdi Soemanto, 2002: 309-310).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Analisis Naskah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis adalah sebuah kajian atau pembedahan karya secara detail baik melalui observasi dan eksplorasi maupun buku-buku bacaan yang berkait erat dengan ide/gagasan awal. Penjelajahan ilmu pengetahuan biasanya dilukiskan secara analogis seperti seorang pengembara, yang selalu berkelana tanpa henti dan tanpa lelah dalam upaya pencarian apa yang disebut  sebagai cahaya kebenaran (truth). Dalam pengembaraan tersebut, Ashar Yotomaruangi mencoba melihat segala sesuatu secara objektif dan tanpa pretensi, mencoba merekontruksi kembali realitas ke dalam karya tulisnya yang berisi kebenaran sejati, yang mengandung ide-ide filosofis melalui bahasa kata maupun tubuh. Penjelajahan ilmu pengetahuan, tidak lain dari penjelajahan kebenaran. Selain itu, ada kemungkin relasi lain antara tanda, citra, dan realitas, yakni pertama sebuah citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas, yang di dalamnya sebuah tanda merepresentasikan realitas. Kedua, citra menopangi dan memutar balikan realitas, seperti yang terdapat pada kejahatan. Ketiga, citra menopangi ketiadaan realitas, seperti yang terdapat pada ilmu sihir. Keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun, disebabkan citra merupakan simulaktrum dirinya yang prosesnya disebut simulasi. Dalam hal ini, sebuah tanda [A] tidak berkaitan dengan realitas apapun [ ] di luar dirinya, oleh karena itu merupakan salinan (copy) dari dirinya sendiri-pure simulactrum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara dalam naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi, merekonstruksikan kembali naskah tersebut sesuai konsep garapannya. Akan tetapi tidak menghilangkan inti dari cerita naskah. Naskah itu sendiri adalah sebuah ide atau gagasan seorang pengarang yang mana ide atau gagasannya ditemukan dalam realitasnya dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan, yang di dalamnya terdapat struktur dan tekstur. Berikut di bawah ini penulis sekaligus pemain dan sutradara memaparkan secara rinci makna yang tersembunyi di dalam naskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Topogente” diambil dari bahasa Kaili Ledo yakni Topo dan gente Topo adalah para pekerja sementara Gente yaitu Tanah liat yang dibentuk kotak (batu bata) Secara etimologis atau asal kata “Topogente” adalah para pembuat atau pekerja batu bata. Naskah “Topogente” karya Ashar Yotomaruangi ini mengkritik masalah Kerusakan Alam; mengenai tanah yang bopeng asap yang setiap harinya mengotori langit yang menyebabkan daya topang bumi menjadi goyah. Sementara dari sisi ke-pemimpinan; menyinggung pemerintahan yang kurang memperhatikan nasip para Topogente, sebab mereka tidak pernah diagendakan dalam program ES KA PE DE seperti Dinas Sosial dan Perindustrian. Para lelaki adalah para buruh atau para pekerja yang merelakan dirinya bekerja pagi hingga sore hari sebagai pencetak batu-bata, meskipun upah yang didapatnya tidak sebanding dengan pekerjaannya. Banyaknya pekerja batu bata di kota Palu 350. Pekerja batu bata di kota Palu sudah ada semenjak tahun 60-an. Naskah “Topogente” ini juga menyinggung kerapuan ekonomi, fisik dan mental para pembuat batu bata. Meskipun demikian sebagian kecil Topogente (para pencetak batu bata) tetap setia dengan pekerjaannya. inilah yang disebut dengan absurditas. Nietzsche mengemukakan hal tersebut dengan sebutan Amourfati, yakni mencintai apa yang dikerjakan hari ini dan hari esok meskipun pahit adanya. Manusia dibekali akal dan pikiran, yang melahirkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang membawa manusia menggapai harapan dan keinginan di dalam eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lelaki satu sebagai pewarta, yakni orang yang menyampaikan kabar berita layaknya seorang pemimpin yang sedang berpidato di atas mimbar. Hand prop alat cetak batu bata yang digunakan lelaki satu berubah fungsi seolah menjadi lembaran kertas pengumuman. Sementara dalam naskah “Topogente” menghadirkan dialog-dialog yang penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ilustrasinya dapat dilihan di bawah ini: “Berapa lama proses mencetak batu bata?” “Berapa harga satu truk pasir..?”  “Berapa satu red tanah yang terpaksa dibeli dengan pihak lain?” “Berapa biaya berobat ketika sakit karena memaksa diri kerja pagi sore?” Sebandingkah harga batu bata dengan harga batu bara?” “Harga semen dan harga harga lain yang kita beli karena menjadi kebutuhan kita.” Sementara hasil pembakaran yang dijual lebih murah dari sebungkus rokok. Lelaki dua tidak memperdulikan keberadaannya nampak pada dialog berikut: “Lumayanlah ada hasilnya sedikit diselip di meja judi, dan toh anak istri kita belum juga kelaparan.” “Manusia  adalah binatang berakal yang memiliki rasa lapar sedemikian parah dalam nurani dan kesadaran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog tersebut sebagai simbol yang menggambarkan tentang manusia itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sementara tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah “Topogente” adalah simbol bumi itu sendiri. Bumi itu sendiri ibarat negara yang berlubang-lubang dan belang-belang. Berlubang-lubang dan belang-belang adalah sebuah janji yang selalu diingkari. Janji tersebut berhubungan dengan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan, akan tetapi pada realitasnya belum juga terwujud. Hal tersebut di atas berkait erat dalam dialog yang terdapat di dalam naskah “Topogente,” yakni “kentut.” Ketika mendengar kata kentut, yang terbesit di dalam pikiran kita adalah bau busuk. Bau busuk inilah yang diibaratkan sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Sementara anak-anak sebagai generasi penerus bangsa atau negara ini menjadi tumbal keangkuhan idealisme individual yang tidak pernah berakhir. Mengharap sebuah ketenangan dan kedamaian tetapi kapan? Di mana kedamaian dan ketenangan itu ditemukan...? Hanya harapan dan penantianlah yang menemani kesendirian anak-anak itu. Berharap kebahagiaan itu akan datang (matahari) dan memeluk kedamaian yang hening (rembulan).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaji dalam konvensi drama dialog dalam naskah “Topogente” sangat cerdas bagi para pekerja batu bata, karena menghadirkan dialog yang puitis bukan dialog yang realistis atau keseharian. Dunia seni adalah dunia kreatif, hal apa saja bisa dibenturkan, memutar balikan fakta dari realitas sebenarnya. Ini adalah pilihan atau gaya penulisan bagi pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” menghadirkan dialeg lokal Buol (salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tengah) dan  Kota Palu. Sementera Judul yang diambil dari bahasa Kaili, ini menyebabkan Judul akhirnya menjadi sebuah tempelan semata, “kenapa tidak bahasa Kaili saja yang dipakai.?” Mengingat Topogente juga ada di setiap daerah bahkan di kota-kota besar di Indonesia. Inilah yang menyebabkan sutradara lebih memilih menghadirkan dialeg untuk memperkenalkan budaya lokal melalui dialeg daerah, bahwa di kota Palu memiliki ragam dialeg dan bukan hanya dialeg saja yang dihadirkan, melainkan juga alat musik lokal, seperti gimba (gendang), kecapi (alat musik petik pada daerah pesisir kota Palu dan kabupaten Donggala), Kakula (sejenis bonang pada gamelan jawa atau talempong di sumatera barat) dan lalove (suling) dan garapan musik vocal tradisi.  Ini sudah cukup mewakili. Kembali mengingat pada “Event Internasional Negarakretagama” yang akan di hadiri beberapa kota dan negara besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot&lt;br /&gt;Naskah “Topogente” alur ceritanya melingkar tidak ada akhir atau penyelesaian sebuah cerita, hanya menghadirkan peristiwa demi peristiwa dan menampakkan awal adegan sama persis pada akhir adegan, perbedaanya terdapat pada dialog seperti ilustrasi di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 :Saudara-saudara sekalian……………………………………………………………………………………………………………..kepada yang mau mendengar pengumuman (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ending atau akhir adegan dialognya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : Saudara-saudara sekalian saya akan menyampaikan kabar…………….&lt;br /&gt;  ................................kepada calon pemimpin yang akan datang (Hal. 6) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karakter &lt;br /&gt;Tokoh adalah bahan paling aktif sebagai penggerak dalam cerita. Tokoh adalah sumber utama terjadinya suatu peristiwa yang muncul dan hadir hingga akhirnya berkembang menjadi satu bangunan peristiwa dialog, baik melalui tubuh maupun kata. Tokoh dalam naskah “Topogente” dimainkan dalam dua karakter, berawal dari tokoh dewasa kemudian para pemain berubah menjadi anak-anak. Adapun analisis tokoh dewasa sebagai berikut:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1   : Psikologis: Tegas. &lt;br /&gt;                 Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;                 Fisiologis : Tinggi kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2  : Psikologis: Mudah marah &lt;br /&gt;        Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata&lt;br /&gt;                Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Psikologis: Takut dan tertekan    &lt;br /&gt;       Sosiologis: Kelas bawah, pencetak batu bata.&lt;br /&gt;       Fisiologis : Kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Tegas, sabar. dingin. Simbol bumi, tanah, dan negara yang menjadi korban  keangkuhan manusia, meskipun demikian dia tidak pernah menyerah.    &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;Menunjukan arah tujuan cerita. Tema sama halnya dengan pondasi bangunan rumah. Sebagus apapun rumah, tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Fondasi di sini adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa sebuah tema. Tema yang terkandung dalam naskah Topogente “ Penderitaan tanpa sebuah akhir.”   &lt;br /&gt;Tekstur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog&lt;br /&gt;Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton melalui suara dan gerak tubuh. Dalam naskah “Topogente” Ashar Yotomaruangi menghadirkan dialog sastra yang memiliki nilai filosofis dan menggabungkannya dengan bahasa keseharian. Ilustrasinya dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan : Dunia sebagai karya tuhan yang terus berduka oleh luka ketidakberdayaan kalian para Topogente dipukul sembilan, dipukul dua belas, dipukul tiga, dipukul enam. Itulah sebabnya bopeng-bopeng dataran tanah diakibatkan oleh kita Topogente adalah juga bopeng-bopeng dataran hidup yang terus menerus dinikmati (Hal. 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penghadiran bahasa keseharian dan dialog yang minim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bilang saja apa isi pengumumannya.&lt;br /&gt;Lelaki 1  : Jangan dulu..jangan mendesak kamu.&lt;br /&gt;Lelaki 2 : Bukan mendesak kamu yang kelamaan bikin susah orang saja.&lt;br /&gt;Lelaki 3 : Kamu juga terlalu kasar (Hal. 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara menghilangkan beberapa dialog yang dianggap verbal akan tetapi dialog tersebut tidak dibuang melainkan dipindahkan ke tubuh aktor, contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : (Ya..sebab pembakaran benda padat yang kita lakukan bertahun-tahun setiap harinya mengotori langit daya topang bumi goyah (Hal. 2)&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Suasana&lt;br /&gt;Suasana sama halnya dengan irama. Suasana dalam pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta irama. Dalam naskah “Topogente” pada awal adegan menghadirkan tempo cepat, sebab lelaki 1 masuk dengan tergesa ingin mengabarkan berita, kemudian berubah menjadi tegang, dengan hadirnya lelaki dua yang tidak sabar menunggu kabar berita. Ketegangan pun menjadi sebuah lelucon. Semangat kerja pencetak batu bata yang penuh dengan keharmonisan digambarkan melalui gerak rampak para lelaki hingga terciptalah bunyi yang beraturan, bunyi tersebut lambat laun berubah menjadi kacau dan tak beraturan alias caos. Kacau dan tak beraturan tersebut adalah simbol realitas kehidupan manusia dalam keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal pada tempo cepat kemudian berubah menjadi tegang lalu ketegangan pun menjadi sebuah lelucon yang membawa pada sebuah keharmonisan tiba-tiba muncul lagi kekacauan yang menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa sebuah akhir.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektakel&lt;br /&gt;spektakel efek khusus dalam naskah yang diciptakan. Spektakel suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel yang dihadirkan dalam naskah “Topogente” terdapat pada teknik muncul pemain, kostum, gerak rampak pemain yang menghadirkan irama, hand prop tidak hanya berfungsi sebagai alat cetak batu bata, tetapi bisa menjadi multifungsi, yakni lembar kertas pengumuman, bantal, borgol, bayi, dan juga pigura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting / latar&lt;br /&gt;Waktu  : Terjadi dalam satu hari dimulai dari pagi sampai sore hari.&lt;br /&gt;Tempat  : Tanah lapang &lt;br /&gt;Peristiwa : Pertemuan yang menjadi perdebatan antara para pekerja batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis&lt;br /&gt;Berawal pada sebuah kegelisahan eksistensi. Kerja tiada lelah, nasib para pencetak batu bata yang tidak kunjung berubah. Bagaimana kita menangani hal yang berkait erat dengan keselamatan pendidikan, kesehatan dan lingkungan? Melihat kesejahtraan dan pengembangan usaha para Topogente? Dampak hubungan manusia, alam dan lingkungan yang semakin hari semakin nampak. Tanah-tanah menjadi bopeng, asap pembakaran setiap hari mengotori langit. Akibatnya daya topang bumi menjadi goyah. Perdebatan panjang yang tak kunjung usai....Kenapa? Bagaimana? Siapa? Di mana? Ke mana? Ini gelap, Lentera tak akan pernah padam..! kepada calon pemimpin yang akan datang, akankah kita??? Hanya waktu yang akan menjawabnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-4412744861604775041?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/4412744861604775041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/4412744861604775041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/4412744861604775041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/topogente.html' title='Topogente'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-153650096847489271</id><published>2010-06-28T07:21:00.000-07:00</published><updated>2010-06-28T07:23:50.624-07:00</updated><title type='text'>M. Noerdianza</title><content type='html'>Pertunjukan Teater Sanggar Seni Kota Palu&lt;br /&gt;Taman Budaya Cak Durasim Surabaya&lt;br /&gt;Tanggal 24 Juni 2010 Jam, 20:00&lt;br /&gt;Oleh: M. Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari tulisan yang di muat dalam surat kabar harian Kompas Surabaya Jumat, 25 Juni 2010 pada kolom Humaniora halaman J mengenai pertunjukan Sanggar Seni Lentera Kota Palu dalam “Festival Negarakretagama” dengan judul “Jeritan Pembuat Batu Bata, Potret Kemiskian”. Mengupas tentang potret masyarakat yang setiap hari bergelut dalam pembuatan batu bata demi mempertahankan hidup dari berbagai tekanan kehidupan. Tingginya harga kebutuhan pokok hingga minyak tanah yang kerap kali lenyap di tengah masyarakat miskin. Hal ini setidaknya tersirat saat Sanggar Seni Lentera kota Palu Sulawesi Tengah mengusung lakon “Topogente” dalam pementasan seni pertunjukkan teater pra Festival Negarakretagama, kamis (24/6) di gedung Cak Durasim, Surabaya.&lt;br /&gt;Pertunjukan seni  teater yang diangkat berdasarkan naskah “Topogente” yang ditulis oleh Ashar Yotomaruangi, kata sutradara pementasan ”Topogente”, M. Noerdianza, terinspirasi realitas kehidupan pembuat batu bata yang hidupnya tidak pernah beranjak baik sepanjang kehidupannya. Bahkan suatu hari seorang pembuat batu bata yang bekerja dari pagi sampai sore hari meninggal  dunia,” kata Noerdianza.&lt;br /&gt;Seni teater sebagai ekspresi sekaligus eksplorasi ide gagasan, bahkan pemikiran kritis terhadap berbagai ragam persoalan hidup dan kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat, seolah menemukan ruangnya saat pekerja seni teater Sanggar Seni Lentera kota Palu, Sulawesi Tengah, menyuarakan jeritan rakyat kecil dan miskin melalui potret kehidupan Topogente yang berarti pekerja tanah liat (pembuat batu bata).&lt;br /&gt;Rajutan kisah Topogente dalam panggung teater yang dimainkan oleh tiga orang lelaki (Irwan Pangeran, Ipin dan Noerdianza/Toto) dan seorang perempuan (Ade fitri), sesungguhnya potret kemiskinan dari sebagian rakyat yang karena ketidakmampuannya mencari alternativ untuk memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya. Akibatnya, masyarakat terpaksa merusak lingkungannya dengan menghidupi dan keluarganya.&lt;br /&gt; Nasib Topogente, sang pembuat batu-bata, adalah prototype kaum pekerja keras yang termarjinalkan oleh sistem yang ada. Realitas itu saat empat lelaki yang memerankan pembuat batu-bata harus pontang –panting mencangkul tanah, mengolah, mencetak, lalu menjemur dan membakar. Namun dalam bagian lain sebuah potret kepedihan muncul dan menggelayuti pekerja keras pembuat batu-bata yang terekspresikan melalui tiga orang lelaki yang memainkannya di atas panggung dengan apik. Ilustrasi musik gitar, gimba, kacapi, seruling dan vokal (lalove, alat musik tiup khas tanah palu, sulteng) yang di mainkan Paul Natsir, Izat, dan Kalsum menyertai setiap adegan yang diliputi suasana kepedihan dan jeritan atas nasib kaum pekerja keras kelurahan tatura, kota Palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara surat kabar Seputar Indonesia (Seputar Surabaya) Jumat, 25/6/ 2010 hal. 11 “Topogente, Representasi Protes Marginalisasi.” Surabaya (S1) topogente merupakan kata dalam bahasa kaili, sebuah suku di Sulawesi Tengah. Kata ini berkaitan dengan cara membuat batu bata yang lazim dilakukan di daerah tersebut. Namun, topogente bukan sekedar cara, melainkan representasi sebuah marginalisasi kaum  bawah. Cerita berjudul topogente dilakonkan teater Lentera Palu asal Sulawesi Tengah di gedung kesenian Cak Durasim, kemarin malam (24/6/2010). Alat topogente yang berupa papan dan kayu pelurus merupakan wujud kondisi para buruh kelas bawah yang nasibnya tidak pernah diperhatikan pemerintah. Kami mencoba membawa suasana para pekerja kasar kelas rendahan yang tidak pernah dilirik pemerintah. Upah kecil dan berbagai minoritas fasilitas membuat mereka jauh dari kesejahteraan, papar sutradara pementasan “Topogente” M. Noerdianza kemarin. Penggambaran minimnya taraf kehidupan para pembuat batu bata di angkat oleh keempat pemain dari teater Lentera Palu untuk melakukan penyaluran aspirasi sebuh suara bahwa saat ini kondisi buruh kelas bawah mengalami penderitaan yang seolah tiada akhir. Dari gerak tari dan berbagai bahasa tubuh yang ada, mereka menyampaikan kondisi mereka saat ini. Papan untuk membuat batu bata menjadi alat yang senantiasa hadir dalam setiap aktifitas yang digambarkan. Aktifitas tersebut mulai dari rapat di mana papan itu beralih fungsi menjadi papan tulis, lalu saat tidur papan berubah menjadi bantal, dan ketika seorang perempuan mengamuk papan itu terpaksa menjadi alat kekang. Pentas yang dipunggawani M. Noerdianza Kaili, Irwan Pangeran, Ipin dan Ade Fitri, ini berlangsung sekitar 30 menit. Pentas itu menampilkan berbagai kegiatan dan juga konflik antar pelakon. Ashar Yotomaruangi, penulis naskah, mengungkapkan bahwa cerita ini akan dipentaskan di dua kota, yakni Surabaya dan Kendari.          &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sanggar Seni Lentera mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari para penonton yang hadir malam itu (24/6) di antaranya kaum pelajar, mahasiswa, pekerja pemerhati seni, seniman sampai dinas pemerintah setempat. Sampai sesi diskusi yang di gelar setelah petunjukan pun, hangat dengan saran, kritik, dan ucapan selamat. Mas Dodi Teater Mesin Surabaya memeberikan aplus terhadap Sanggar Seni Lentera Kota Palu, menurutnya pertunjukan Lentera tertata dengan rapih, penghadiran spektakel yang memukau penataan, Mas Obeng Teater API seniman Surabaya mengatakan Teater Lentera memiliki warna tersendiri dalam pertunjukannya dan Sasa Jurnalis/Markom Surabaya. Mengatakan penyutradaraan Topogente terstruktur, mulai dari bloking, komposisi, levelitas, kekompakan dan sampai apa yang ingin disampaikan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Pertunjukan Sanggar Seni Lentera di Surabaya (Kota Pahlawan) tidak lepas dari dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak di antaranya Ketua Dewan Kesenian Palu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu, Ketua Seniman Peduli Narkoba dan Dra. Ince Rahma Borahima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakasalama Adata Pura” Tageline ini yang selalu mengantar sanggar seni lentera dalam setiap langkah perjuangannya dalam bergerak, maju dan menang.Salandoa Kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-153650096847489271?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/153650096847489271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/m-noerdianza.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/153650096847489271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/153650096847489271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/06/m-noerdianza.html' title='M. Noerdianza'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-5860351913985583564</id><published>2010-02-25T18:48:00.001-08:00</published><updated>2010-02-25T18:59:37.626-08:00</updated><title type='text'>Pertunjukan Teater</title><content type='html'>“Bos”&lt;br /&gt;Karya Sutradara M. Noerdianza&lt;br /&gt;Asisten Sutradara Dikson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Budaya Kota Palu Sulawesi Tengah&lt;br /&gt;3 April 2010. 19.30 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Sanggar Seni Lentera mencari terus arah-arah tersebut dengan mementaskan berbagai gaya dan bentuk pemanggungan serta aliran dalam teater. Dari pengalaman inilah SSL baru menemukan berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian dalam pemilihan tersebut. Setelah sekian lama mengalami kevakuman bukan berarti hilang dari per-teater-an di kota Palu melainkan mengendapkan diri melakukan proses perenungan pencarian jati diri.&lt;br /&gt;SSL akan kembali berproduksi mementaskan karya sendiri yang tentunya berangkat pada budaya lokal dengan keberangkatan isu sosial sebagai teks diberi judul “BOS” naskah sutradara M. Noerdianza. Asisten sutradara Dikson. Sebagaimana yang kita pahami bahwa kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang dimana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.&lt;br /&gt;Setiap individu mengalami pergulatan batin  dengan dunianya yang memaksa manusia untuk bersikap dengan cara apapun demi mendapatkan apa yang menjadi kehendak. Sikap jujur adalah prioritas utama manusia dalam menyikapi kehidupan bermasyarakat. Bahkan sebaliknya sikap jujur hanya kolase semata, kecerdasan disalah gunakan hanya karena sebuah kepentingan. “Bos” mengkisahkan sekelompok masyarakat pemulung mengais rezeki di tumpukan sampah. Kehidupan modernitas mempengaruhi pola pikir manusia. Keinginan merubah hidup berakhir dengan penderitaan. Selalu saja ada hal-hal yang aneh, penuh dengan teka-teki yang sulit diterima logika.&lt;br /&gt;Orang-orang sampah yang selama ini dianggap orang-orang yang terbelakang tentang segala hal. Tetapi di dalam lakon “BOS”  ini, kisahnya tidak demikian. Cerita ini memutarbalikan fakta, bahwa peristiwa-peristiwa yang mereka ketahui dari koran-koran bekas yang ditemukan dijalan-jalan, dan tong-tong sampah menjadikan mereka para pemikir intelektual. &lt;br /&gt;Bos mengkisahkan seputar realitas sosial kehidupan masyarakat pemulung di kota Palu yang menggambarkan peristiwa demi peristiwa sepanjang tahun 2000. Mulai di tahun 2005 sampai pada tahun 2010. Peristiwa tersebut dikemas sedemikian rupa kemudian menggabungkannya menjadi satu kesatuan hingga menjadikan alur dalam sebuah cerita, layaknya kolase atau seni tempelan. Peristiwa tersebut menyangkut kasus pelayanan rumah sakit yang lebih mengutamkan administrasi dari pada pasien, TPS, korupsi, kasus bank Century, teroris, berjudian, kasus narkoba, seni budaya, dan TKW sampai pada latar belakang sejarah kaili. Secara garis besar naskah “BOS”  beraliran kontemporer . Teknik penggarapan dan gaya pemanggungan dibuat  solah-olah realis.&lt;br /&gt; Kontemporer berasal dari kata tempo atau waktu pada masa kini atau dewasa ini. Kontemporer tumbuh dan berkembang pada masa re-naisance. Dalam konteks pertunjukan, teater kontemporer kita temukan dalam lakon klasik. Seperti halnya di Negeri Eropa kita mengenal kisah cinta “Romeo dan Juliet”,  “Oidipus”, di Indonesia kita mengenal cerita klasik wong Jowo “Roro mendut”, “Sampek Engtay”. Pada dewasa ini cerita klasik tersebut di rombak, memutar balikan fakta sesuai konteks kekinian, dan perubahannya bisa saja dilihat dari perubahan kostum, sett, properti, lakon, make up,  pemeranan yang  tidak lagi melihat latar belakang waktu, tempat dan peristiwa lampau melainkan peristiwa kekinian. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan, maka dalam kontemporer tidak ada pertanyaan yang terjawab secara otomatis, tidak ada gaya yang wajib dianut, tidak ada penafsiran yang selalu benar.  Jean Paul sartre mengatakan bahwa manusia mendapat hukuman dengan hidup secara bebas. Dunia teater membebaskan sutradara berhadapan dengan hampir semua kehidupan tanpa batas, yang membawanya pada kegelisahan eksistensial yaitu kegelisahan yang mengerikan sebagai tantangan yang mendebarkan. &lt;br /&gt;Realis adalah segala sesuatu yang nyata, segala sesuatu yang sama dengan realita. Aliran realis dalam seni, aliran yang menghasilkan karya seperti dalam realita kehidupan. Realita dalam kehidupan sehari-hari yang dialami oleh masyarakat lingkungannya. Namun bentuk dan media ekspresi dalam menghasilkan karya seni yang berbeda, menyebabkan penerapan realism dalam karya seni berbeda, antara karya seni satu dan lainnya. Realism dalam teater ialah untuk menciptakan sesuatu di atas panggung seperti “kenyataan” yang ada. Menciptakan ilusi kenyataan di atas panggung. Seolah-olah penonton menyaksikan apa yang terjadi seperti dalam kenyataan sehari-hari.&lt;br /&gt;Sebagai seni kolektif yang tersusun atas 3 (tiga) komponen, seni teater mengalami banyak “hambatan” kendala, karena ketiga komponennya dapat mempunyai pendekatan yang sama atau “berbeda” ketiganya dapat menggunakan aliran yang sama, tetapi dapat juga salah satu komponen meng-ikuti “aliran yang tidak sama”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-5860351913985583564?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/5860351913985583564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/02/pertunjukan-teater.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5860351913985583564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5860351913985583564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/02/pertunjukan-teater.html' title='Pertunjukan Teater'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-5193301802259231051</id><published>2010-02-02T20:42:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T20:45:43.763-08:00</updated><title type='text'>Merpson Lokakarya Pekan Budaya dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah ke IX yang akan dilaksanakan di Palu 22-27 Juni bertempat di Palu Golden Hotel</title><content type='html'>Adapun yang dijadikan tanggapan pada tulisan ini,&lt;br /&gt;Workshop Seni Pertunjukan&lt;br /&gt;pada poin tiga&lt;br /&gt;Workshop untuk guru-guru Kesenian baik tingkat SD, SMP, dan SMA.&lt;br /&gt;Oleh &lt;br /&gt;M. Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pecinta seni teater sangat mendukung adanya kegiatan ini. Sudah seharusnya kita memperkenalkan budaya kita kepada masyarakat luas, kalau bukan kita siapa lagi..? Tidak ada kata terlambat, kita tunjukan bahwa kita mampu berbuat melestarikan dan mengembangkan seni budaya di kota Palu Sulawesi Tengah, khususnya Indonesia dan umumnya pada dunia. Kita harus bersyukur dengan adanya klem Malaysia terhadap kesenian di Indonesia. Adanya klem tersebut membuka pikiran kita yang selama ini tertutup rapat hanya karena kepentingan individualisme, tanpa memikirkan betapa pentingnya pertumbuhan dan pelestarian seni budaya lokal, Begitu banyak gagasan-gagasan yang menarik dari Dinas Kebudayaan baik Kota maupun Propinsi. Tetapi untuk pengolahan manajemen pertunjukannya amburadul alias kacau. Kenapa hal ini terjadi? Ini sudah menjadi hukum alam siapa yang kuat dia yang dapat meskipun itu bukan bidangnya. Semoga saja masalah klasik ini tidak akan terjadi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya Workshop guru-guru kesenan baik tingkat SD, SMP, SMA, para sarjana seni khususnya anak daerah diberikan tempat memberikan jasanya bagi daerahnya. Namun sebelumnya Teater sudah berbuat memberikan sumbangsih besar bagi daerahnya dengan mengadakan Workshop Teater Penyutradaraan dan Keaktoran dan waktu pelaksanaannya di bulan Oktober 2009 bertempat di Taman Budaya Kota Palu. Peserta workshop tersebut terdiri dari guru seni di tingkat SMA, Mahasiswa, Kelompok, Komunitas, dan Sanggar teater. Penulis kembali menandaskan workshop ini harus berkelanjutan tidak hanya sebatas workshop saja, melainkan semua peserta workshop penyutradaraan dan keaktoran diberikan ruang untuk berproduksi. Terlaksananya program berkelanjutan ini DKP bekerja sama dengan Dikjar, kemudian Dikjar memberi rekomendasi ke sekolah-sekolah bahwa DKP akan mengadakan Festival Teater Remaja (FTR). Semua peserta workshop penyutradaraan diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah dan menyutradarai langsung di sekolah tersebut. Peserta terbaik dari festival Teater Remaja (FTR) akan mendapatkan piala dan piagam serta piala bergilir dari DKP. Piala bergilir tersebut akan menjadi rebutan layaknya petinju merebut sabuk emas. Tetapi dalam FTR, proses kreatif dalam penggarapan pentas yang menjadi ajang pertarungan untuk mempertahankan atau merebut piala bergilir dari DKP adalah proses kreatif penciptaan karya seni melalui drama atau teater. Oleh karena itu FTR menjadi kegitan tahunan. Dan FTR mulai berjalan di tahun 2009 bulan November. Semoga FTR berkelanjutan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-5193301802259231051?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/5193301802259231051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/02/merpson-lokakarya-pekan-budaya-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5193301802259231051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5193301802259231051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2010/02/merpson-lokakarya-pekan-budaya-dan.html' title='Merpson Lokakarya Pekan Budaya dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah ke IX yang akan dilaksanakan di Palu 22-27 Juni bertempat di Palu Golden Hotel'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-5499609492978505789</id><published>2009-12-14T03:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T03:27:00.270-08:00</updated><title type='text'>“TONDATALUSI”</title><content type='html'>M. Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TONDATALUSI”  adalah kata yang diambil dari bahasa daerah ciri khas suku Kaili tepatnya di Kota Palu Sulawesi Tengah, bahwa Tondatalusi tersebut memiliki makna yang terdiri dari tiga tungku mewakili Adat, Agama dan Pemerintahan, sebagai simbol ke-bersama-an menuju sebuah tujuan, yakni KEDAMAIAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem tradisional atau pra modern, antara lain individu dan masyarakat tidaklah merupakan objek, tetapi subjek yang turut menentukan arah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Agama adalah sistem yang baku yang tidak bisa diubah agamalah dasar pijak kehidupan. Dan kebenarannya tak diragukan lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Politik Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisim politik modern memiliki tiga unsur di antaranya Demokrasi, Konstitusional, dan Berlandaskan hukum. Demokrasi adalah kebebasan individu dalam berpendapat, Konstitusional ialah aturan dasar yang ditempu melalui kesepakatan. Sementara Hukum  itu sendiri mewadahi perbedaan paham dan pandangan, dan mengatasinya dengan cara beradap dan damai, dalam aturan yang disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi “Tondatalusi”  dibenturan dengan realitas modern. Dalam masyarakat modern dasar atau keutamaan dari sistem sosial antarindividu telah melangkah jauh dari aturan-aturan dan hubungan antara satu dengan yang lainnya dan lebih bersifat impersonal menjadi lebih pre-dominan. Bahwa kebersamaan me-nampak-kan kesenjangan sosial semata-mata hanyalah khiasan belaka, bagai tarian kata yang di-curah-kan di dinding kloset. Duduk berak membaca tulisan sekitar lalu keluar dan me-lupakan-nya. Tidak ada lagi yang saling percaya, idelisme komunal kehilangan makna, dan sistem telah melangkah jauh dari bukti-bukti empiris (berdasarkan pengalaman dan penghayatan) Idealisme dalam penulisan ini tidak lagi menunjukkan sikap saling menerima atau menghayati antara satu dengan yang lainnya, hilangnya sikap saling menyokong sebuah perencanaan, semua ingin me-nunjuk-kan eksistensinya sendiri tanpa peduli siapa dan apa yang ada di sekitarnya. Meskipun demikian kita tak dapat menyangkal bahwa kita tidak bisa lepas dari sistem-sistem yang telah dibuat dan telah disepakati bersama. Satu-satunya cara membuat sistem di dalam sistem, dengan sistem cinta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kreatif&lt;br /&gt;Beragkat dari selera tiap-tiap individu dikemas menjadi sesuatu yang mugkin menggelikan tapi itulah kejujuran. Layaknya anak-anak kecil sedang asik bermain mengeluarkan kata-kata “jorok” yang menyinggung perasaan tapi itulah kenyataan dari ke-polos-an seorang anak, tanpa menyadari apakah berdosa atau tidak ataukah menyinggung perasaan atau tidak. Pertunjukan ini bila disimak seperti tambal sulam membenturkan berbagai warna, gaya dan bentuk dalam seni teater layaknya pencampuran warna tanpa skala.  Proses penggarapannya melihat kekurangan dan kekurangan itu bukan hambatan. Kami meyakini bahwa perbedaan itu suatu pengkayaan bukannya menjadi duri dalam daging.   &lt;br /&gt;Menjadi titik fokus bersama bagaimana pertunjukan itu sampai dengan penciptaan dialog ringan berisi kepolosan, tapi terkadang kepolosan jadi ejekan. Serta penghadiran gerak-gerak tubuh fisik yang terlihat kaku. Bagai gambaran hidup yang dilalui dengan kekakuan  ………………………………………………………………………………………….?????????????&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-5499609492978505789?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/5499609492978505789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/tondatalusi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5499609492978505789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/5499609492978505789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/tondatalusi.html' title='“TONDATALUSI”'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-8257870732119109744</id><published>2009-12-14T03:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T03:24:26.099-08:00</updated><title type='text'>Orang Palu bicara tradisi Kaili</title><content type='html'>M. Noerdianza&lt;br /&gt;Apa itu Palu?&lt;br /&gt;Palu adalah sebuah kota tepatnya di Sulawesi Tengah, bukan Palu yang dipakai tukang kayu memalu paku. Saya pernah ditanya teman saya wong Jowo, nama aslimu siapa sih sebenarnya?  Saya jawab Moh. Nurdiansyah, kok dipanggil Toto seperti nama orang jawa. Saya sendiri tidak tahu juga mas kenapa dipanggil Toto saya menjawab dengan ngawur dengan maksud menghibur mungkin sejak kecil sampai besar suka netek wakakak….teman saya tertawa. Awalnya nama saya Moh. Irfan mas, karena sakit-sakitan digantilah dengan panggilan Toto. Terus teman saya bertanya lagi, To aslimu nengdi? Saya jawab lagi. Palu. Teman saya itu tertawa lagi dengan ter-bahag-bahag saya bingung apa yang ditertawakan melihat teman saya tertawa saya pun ikut tertawa tanpa tahu sebab. Lucu ya To kata teman saya. Saya bertanya kenapa lucu?  Ya jelas lucu besar di Palu lahir ditendang mati dibacok. Saya tersiggung dengan kata itu, sambil memperlihatkan senyum sinis. Tapi saya mengambil sisi positifnya menganggap bahwa ini awal dari sebuah keakraban hitung-hitung skalian memperkenalkan kepada mereka bahwa Palu itu ada di Sulawesi Tengah Bukan hanya Donggala yang mereka kenal. Saya merantau tidak ditendang tapi atas keinginan sendiri, sebab di Palu belum ada sekolah seninya mas. Jangankan sekolah seni keseniannya saja kurang mendapat dukungan. Kalau masalah mati itu urusan tuhan yang penting hubungan antar manusia berjalan dengan baik bersikap sopan dan santun. Jangan menimbulkan sesuatu yang memancing amarah. Teman saya itu diam sejenak seolah merasa bersalah iya..ya..To, betul juga kata pepatah mulutmu harimaumu, maaf ya To kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu. Ya sebab kata-kata itu doa astagfirullah…jawab kami berdua.  &lt;br /&gt;Eh..,ngomong-ngomong Kaili itu apa To?&lt;br /&gt;Menurut tradisi lisan tumbuh di antara negeri Kalinjo dan Sigi Pulu. Begini ceritanya, sebenarnya keberadaan dan kebesaran orang di Kaili ada hubungan kisah epik I Lagaligo melalui tokoh Sawerigading. Ketika Sawerigading dari perjalanannya pulang dari negeri Cina untuk menemui perempuan yang dicintai dan dikawininya yang bernama Cudai, Sawerigading singgah di Ganti Ibukota kerajaan Banawa untuk bertemu dengan kerajaan Banawa. Ketika di Ganti itulah Sawerigading mendengar tentang negeri Sigipulu yang merupakan pusat Kerajaan Sigi yang dipimpin oleh seorang ratu yang cantik bernama Ngili Nayo. Berlayarlah Sawerigading menuju ke Kerajaan Sigi. Setelah memasuki teluk, dari kejauhan Sawerigading melihat pepohonan yang tinggi menjulang di sebelah Timur Teluk, ketika Sawerigading singgah di pelabuhan Sombe, Sawerigading memperoleh keterangan dari masyarakat di sekitar pelabuhan itu, bahwa pepohonan tersebut adalah pepohonan Kaili. sejak itu, para pelaut menyebut, Teluk Palu adalah Teluk Kaili dan masyarakat yang mendiami Lembah Palu dan sekitarnya disebut To Kaili. Itu sekilas tentang sejarah Kaili. &lt;br /&gt;Tapi kenyataannya bukan demikian, bukan kisah tutur yang diceritakan terun temurun dari ayah kepada anaknya, bukan cerita dongeng yang menina bobokan kita, bukan juga cerita mitos atau pun legenda. ini realistis. &lt;br /&gt;Ciri khas daripada watak seseorang bisa dipelajari dengan melihat latar belakang sejarahnya kawan. Tapi sayang pohon kaili tidak ada lagi sekarang  punah tidak ada bibit-bibit, tidak ada generasi-generasi lagi, hanya itu-itu saja. yang lain entah di mana. Begitu juga dengan pohon Silaguri, simbol dari ketahanan dunia menurut mitos pohon Silaguri itu sangat besar sampai-sampai tiga orang yang berjejer berpegang tangan memeluk pohon itu tidak sampai juga. Bayangkan bagaimana besarnya, tapi sekarang besarnya se-kelingking. Hidup Itu kan penuh dengan tanda. Begitu banyak putra putri daerah yang berkwalitas tidak diberdayakan malah dipersulit. Padahal Otonomi Daerah sudah ada sekarang. Dulu dengan sekarang sama saja beda-beda tipis. Kalau dulu pejuang-pejuang kita yang melawan belanda, banyak yang diculik dibunuh dan ada juga yang dibuang ke tanah Jawa. Nah kalau zaman sekarang, dibunuh dengan cara halus, contoh kasus mau urus apa saja dipersulit itu sama saja membunuh harapan secara halus. Akhirnya terbuang, di deker-deker dan trotoar jalan.         &lt;br /&gt;Apakah ada tradisi leluhur di Palu To?&lt;br /&gt;Ya..,jelas adalah no namanya Raego. Konon kabarnya, dahulu kala ada seorang petani yang sedang berburu di tengah hutan mendengar suara-suara melengking yang bersahut-sahutan. Ketika petani itu mencari sumber bunyi tersebut, dia terkejut melihat segerombolan rusa jantan dan betina sedang melakukan gerakan-gerakan yang ritmis serta se-sekali menghentak-hentakkan kaki mereka ke tanah, sambil mengeluarkan suara-suara melengking yang bersahut-sahutan. Dari gerakan rusa-rusa tersebut tarian ini diadaptasi dan ditirukan oleh masyarakat suku Kulawi Di kalangan masyarakat suku Kulawi, tarian ini dibawakan secara berpasangan membentuk setengah lingkaran atau satu lingkaran, di mana pria meletakan tangannya pada bahu wanita (mo mi olo). Tarian ini tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring, tetapi mengandalkan alunan syair yang dinyanyikan oleh wanita (no wama) lalu dibalas oleh pria yang mengeluarkan suara-suara melengking (no wuncaka). Isi syair dalam tarian ini dibawakan sesuai dengan pesta adat yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petama-tama seorang pria melantunkan sebuah syair (no timbeka) lalu diikuti oleh para pria lainnya (no umpui). Selanjutnya syair tersebut dibalas oleh seorang wanita (no wama). Tarian ini semakin riuh oleh lengkingan suara para pria yang bersahut-sahutan (no wuncaka). Pada bagian-bagian tertentu dalam tarian ini, para pria akan menghentak-hentakkan kaki mereka ke tanah (no haita) dan wanita menekukkan lutut mereka (no odu). Dalam tarian ini hanya seorang wanita saja yang berperan sebagai pelantun syair, sedangkan wanita yang lain hanya melakukan gerakan-gerakan ritmis saja. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa tarian ini tidak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menggunakan alat musik sebagai pengiring. Hal ini berarti bahwa tarian rego muncul ketika masyarakat suku kulawi belum mengenal alat musik. Saat ini sangat jarang generasi muda suku kulawi yang mengetahui tarian ini, sehingga jika tidak dilestarikan, dikhawatirkan suatu saat nanti tarian ini akan punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raego itu apa?&lt;br /&gt;Raego merupakan upacara ritual adat, yakni puji-pujian kepada Sang Pencipta. Puji-pujian tersebut di antaranya meminta keselamatan agar terhindar dari segala macam bencana (tolak bala), Upacara ritual adat Raego biasanya dilaksnakan pada saat sebelum dan sesudah panen. Raego juga sebagai spirit untuk menghantar para Tadulako ketika akan berangkat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa gerakkan tari Raego terus-menerus berfokus pada kaki yang menghentak bumi?&lt;br /&gt;Secara filosofis membangunkan benih-benih tanaman agar subur. Masyarakat adat setempat percaya bahwa segala unsur yang ada di alam ini bersemayam roh-roh leluhur, hentakan kaki sebagai penanda untuk memohon kepada tupu tana (penghuni tanah) agar diberikannya kesuburan terhadap benih-benih tanaman. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada juga upacara adat namanya Balia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan tradisi Balia yang terdapat di daerah Sulawesi Tengah tepatnya desa Pakuli. Provinsi Sulawesi Tengah adalah salah satu daerah yang kaya dengan pengetahuan dan kearifan lokal. Salah satu di antaranya banyak kearifan lokal tersebut adalah keberadaan sistem, pranata dan tata cara pengobatan tradisional. Sistem ini tumbuh dan berkembang ratusan tahun silam, dijalankan sebagai suatu metode bertahan hidup dan solusi atas permasalahan kesehatan yang mereka hadapi sehai-hari. Dalam sistem pengobatan tradisional inilah kita mengenal istilah sando, yakni sebutan yang diberikan kepada seseorang yang dianggap menguasai keahlian mengobati penyakit. Dalam bahasa kaili, salah satu bahasa lokal tertua di provinsi ini, sando berarti orang yang dikaruniai kemampuan menyembuhkan penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu daerah kantong sando yang paling penting di provinsi ini adalah desa Pakuli, sebuah desa di kecamatan Gumbasa, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Di desa yang sebagian wilayahnya berada di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Desa ini juga kaya dengan aneka tanaman yang biasa juga menjadi bahan baku obat-obat tradisional. Istilah “pakuli” sendiri dalam bahasa Kaili berarti “obat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian mengobati berbagai penyakit ini mengantarkan sando pada strata sosial dan status budaya yang tinggi dikalangan masyarakan. Mereka sangat dihormati, dan sering dijadikan panutan bagi anggota masyarakat lainnya. Bercengrama dan berkunjung menemui penduduk yang menjadi pasiennya adalah salah satu pekerjaan rutin sando di samping obat-mengobati. Itulah sebabnya secara emosional hubungan mereka dangan masyarakat sangatlah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping keahliannya mengobati penyakit, sando dipandang sebagai seorang pemuka adat, karena mereka juga biasanya sangat menguasai tata cara dan pranata adat, terutama pranata adat yang berhubungan dengan praktek pengobatan. Mereka diposisikan sebagai pelindung karena kemampuannya memediasi dan berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Lebih dari sekedar hubungan fisik antara manusia, interaksi antara masyarakat, sando dan roh-roh leluhur lebih menampakkan satu bentuk kesatuan religiositas yang berpern penting dalam memantapkan kehidupan pribadi sekaligus mengenalkan ikatan sosial di antara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt; Kapan biasanya upacara adat Balia dilaksanakan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya diadakan pada saat memperingati hari besar kepahlawanan, kemerdekaan, kenabian, dan sebagainya. Adat disebut dengan upacara, yakni tanda-tanda kebesaran. Adat adalah sesuatu yang  lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala hingga menjadi tradisi. Maksud tradisi tersebut, yaitu kepercayaan, kebiasaan, ajaran yang turun-temurun dari nenek moyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balia terbagi menjadi dua suku kata “bali” dan “ia”. “Bali” berasal dari kata kembali. ”ia” menunjukkan diri si penderita, secara etimologis atau asal kata arti dari Balia, yakni kembalikan ia layaknya seperti semula. Dalam upacara Balia para peserta di wajibkan menggunakan atribut seperti siga pakaian adat bercorak kuning, atau putih, Buya Mbesa dan perangkat upacara ritual seperti Guma, Kaliavo, Tampi, Gimba, Lalove, dan Pingga Putih. Bentuk dominan upacara ini adalah No Taro, Gimba dan Lalove. Dan dade-dade, yang berisikan gane-gane. &lt;br /&gt;Topo Taro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta upacara akan terus menari hingga semuanya mengalami trance, kerasukan roh leluhur yang mereka sebut No Taro. Upacara biasanya diakhiri dengan penyembelian hewan, sebagai simbol persembahan atau tebusan atau kesalahan yang dilakukan oleh si penderita atau keluarganya. Besarnya kesalahan atau penyakit yang diderita oleh seseorang, itu dapat kita lihat dari besarnya hewan yang akan disembelih, dari ayam, kambing, sapi atau kerbau. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Setiap daerah memiliki kepercayaan terhadap tradisinya, yang diberikan secara turun-temurun dari ayah kepada anaknya. Mempertahankan tradisi leluhur dan menjaganya sebagai  warisan tidak lain sebagai penanda ciri khas daerah tertentu. Dari tradisi tercipta gaya berbahasa, tingkah laku, sopan, santun dan sebagainya. Masyarakat adat percaya apabila melanggar aturan adat akan terus-menerus mendapat musibah. Di Provinsi Sulawesi Tengah kabupaten Donggal tepatnya desa Pakuli memiliki satu kepercayaan terhadap penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh ilmu kedokteran dan satu-satunya jalan yang ditempu melalui pengobatan tradisi Balia. Masyarakat setempat percaya bahwa penyakit yang diderita oleh si penderita adalah penyakit yang diakibatkan oleh gangguan mahluk halus atau roh leluhur, karena dianggap telah melanggar larangan adat atau tidak menghargai alam tempat di mana mereka tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara no Balia diikuti paling sedikit tujuh orang to po Balia dan pemangku adat. Yang menjadi to po Balia yakni mereka yang dianggap bersih dari hadat kecil dan hadat besar, tujuannya agar roh halus yang dipanggil melalui mantra-mantra yang diucapkan Ntina Nubalia dengan mudah merasuki tujuh to po Balia. Mereka yang dirasuki ada hubungan keturunan, pertemanan, atau kembaran dari roh tersebut, to po Balia diistilahkan sebagai perahu yang digunakan sebagai perantara. Upacara Balia dilakukan di lapangan terbuka tepatnya di malam hari sampai menjelang pagi, upacara Balia dilakukan sehari semalam bahkan berturut-turut selama tiga hari tiga malam, tergantung penyakit yang diderita oleh si penderita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To po Gimba &lt;br /&gt;Dalam upacara Balia seseorang yang mengiringi topo taro dengan alat musik gendang dinamakan to po gimba. Ada tiga jenis pukulan yang sering digunakan untuk mengiringi para to po taro, di antaranya “Dudumpaku” jenis pukulan ini untuk memanggil roh. “Sarondayo Ri Batana” pukulan transisi sebelum mencapai trance. “Kancara Tampilangi” pukulan atau tempo cepat ketika to po Taro mencapai trance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To po Lalove&lt;br /&gt;To po lalove dalam upacara balia, yakni seseorang yang menggunakan alat musik tiup yang dikenal dengan suling, terbuat dari bambu, panjang kurang lebih 80 cm, teknik dan cara meniup alat musik tersebut layaknya orang meniup bara api, sehingga bunyi yang terdengar tidak terputus. Masyarakat setempat percaya bahwa alat musik ini digunakan untuk memangil roh halus, di tempatkan dalam kamar ukuran 1x1,  diberi menyan atau dupa dan dibungkus dalam kain berwarnah merah atau kuning, pada hari-hari tertentu alat tersebut dikeluarkan dari tempatnya dengan syarat membaca mantra-mantra. Jenis bunyi atau irama yang dimainkan dalam alat musik lalove ini dinamakan Pantete Nabi, yakni memanggil dan mengeluarkan roh leluhur yang merasuki para to po taro.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah.., sayang ya kalau tidak dikembangan kata teman saya. Itu dia. Sebenarnya sudah sih, tapi apa dikata pemerintahnya saja kurang mendukung. Mereka yang tahu sejarah Kaili saja bisa dihitung dengan jari. Kenapa harus berharap dengan pemerintah? Pemerintah juga punya andil memelihara mas,  apalagi mereka sebagai perwakilan daerah mau tidak mau memberi dukungan baik moril maupun materil. Saya bukan orang tradisi murni mas, saya lahir dan hidup dilingkungan modern tapi setidaknya kita haus tahu latar belakang tradisi kita sendiri, bukannya memanfaatkan tradisi demi satu tujuan. Wah..ngomong-ngomong tradisi tidak akan pernah selesai mas. Sampai sini dulu ya! Kapan-kapan kita sambung lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-8257870732119109744?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/8257870732119109744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/orang-palu-bicara-tradisi-kaili.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/8257870732119109744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/8257870732119109744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/orang-palu-bicara-tradisi-kaili.html' title='Orang Palu bicara tradisi Kaili'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-6800728040280060565</id><published>2009-12-12T19:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-12T20:12:41.335-08:00</updated><title type='text'>Workshop penyutradaraan</title><content type='html'>M. Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN SUTRADARA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu sutradara ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Orang Yunani menamakan sutradara sebagai didaskalos yang berarti “guru”.  Maksud dari guru tersebut, yakni seseorang yang lebih dulu memiliki pengetahuan pada bidangnnya, pengetahunnya itu diberikan kepada orang yang dianggap belum memahami. Namun terkadang pengajar-pengajar seni drama/teater ditingkat SMP, SMA, Bahkan tingkat Kampus kurang mendalami secara spesifik bagaimana mengemas sebuah pertunjukan drama/teater yang memiliki nilai estetik, tentunya dengan melalui pengamatan dan pengejaran kebenaran tidak hanya sebatas khayalan. Berbicara drama dan teater adalah satu kesatuan antar unsur seni. Sekali saja kita berbuat kesalahan selamanya penonton tidak akan mempercayai lagi setiap garapan yang akan dipentaskan. Makna dan tujuan drama/teater, adalah jujur dalam pekataan, ikhlas dalam perbuatan, sabar dalam cobaan, tegas dalam tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sutradara menurut Russel J.Grandstaff adalah para penerjemah, para guru dan seniman-seniman kreatif. Kemampuan mereka dalam menangkap keberadaan orang lain harus jeli. Rasa tanggung jawab kepada penulis naskah dan kepada penonton harus tulus. Dengan kebajikan pengalaman dan latihan-latihan, mereka memiliki keterampilan-keterampilan organisasi dan pengetahuan vokal sebagai bagian dari keahlian menyutradarai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Nano Riantiarno mengatakan bahwa sutradara harus mampu memimpin dan mengarahkan semua bagian menuju kepada sebuah tujuan.  Maksud dari semua bagian tersebut, yakni &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Berbeda pula tanggapan sutradara yang dikemukakan Harymawan. Sutradara sama halnya dengan karyawan yang mengkoordinasi segala unsur teater dengan paham, kecakapan, serta daya khayal yang inteligen sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil.  Seperti yang kita ketahui bahwa Karyawan adalah pekerja. Pengertian karyawan di sini sama halnya dengan seorang sutradara yang memiliki wewenang terhadap segala unsur yang terkait erat dengan produksi teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dinamakan sutradara?&lt;br /&gt;Karena Ia yang mengatur dan mengkoodinir segala unsur seni yang terkait erat dengan produksi teater, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah&lt;br /&gt;Sebuah hasil dari bengamatan, penglihatan, pendengaran, perasaan, kemudian dihayati dan resapi di renungkan kembali, lalu dituangkan  menjadi sebuah karya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktor&lt;br /&gt;Seseorang yang memerankan karakter tokoh menghidupkan karya tulis melalui tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat&lt;br /&gt;Sebuah ruang di mana proses latihan berlangsung dan di mana pertunjukan di laksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penata Panggung&lt;br /&gt;Merancang/menata ruang pertunjukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penata lampu&lt;br /&gt;Selain sebagai penerang berfungsi sebagai penanda suasana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penata kostum&lt;br /&gt;Merancang kebutuhan pakaian pemain &lt;br /&gt;Penata make up&lt;br /&gt;Melukis wajah pemain sesuai dengan karakter tokoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penata musik&lt;br /&gt;menghidupkan suasana permainan,    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sutradara ibarat seorang ayah yang selalu memperhatikan keluarganya dengan penuh kasih sayang dalam suka maupun duka, apa bila lalai mengatur rumah tangganya akan menyebabkan pertengkaran bahan berakhir dengan perceraian. Begitu pula tehadap sutradara dengan para aktornya, apabila gagal mengatur pemainnya, akan berakhir kegagalan dalam pementasan. Untuk itu dibutuhkan kecerdasan intelektual. Maksud dari kecerdasan intelektual tersebut, yakni kecerdasan pikir terhadap situasi dan kondisi ketika proses berjalan. Sutradara tidak cukup hanya dengan mengatur dan mengkoordinir saja tetapi ia harus mempelajari psikologi dari tiap-tiap pemainnya. Ayah yang baik memahami psikologis anaknya, begitu pula sutradara. Ayah yang baik memberi kebebasan terhadap apa yang menjadi keinginan anaknya, dalam hal ini masih bersifat positif, apabila terjadi kekhilafan seorang ayah berhak menegur.  Sama halnya sutradara memberi kebebasan kepada aktornya melakukan pencarian bentuk terhadap karakter tokoh dengan ketentuan tidak lepas dari konsep awal sutradara. Apabila bergeser dari konsep yang ada maka sutradara harus meluruskannya.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa saja yang bisa menjadi sutradara? &lt;br /&gt;Siapa saja bisa menyutradarai asalkan Ia merasa dirinya mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan munculnya sutradara? &lt;br /&gt;Pada zaman Yunani Purba, pergelaran secara langsung dibawakan atau dipimpin oleh penulis naskah. Pada zaman abad pertengahan, ada yang disebut Metteur du jeu atau pemimpin permainan yang bertugas mengkoordinir pertunjukan. Pada zaman Shakespeare sampai akhir abad ke 19, pergelaran teater dipimpin oleh Aktor Manager. Tetapi pada zaman modern, seringkali seorang sutradara merangkap menjadi pemain utama. dan sebagai akibat dari kondisi semacam ini, perhatian sang sutradara biasanya lebih tertuju pada peranannya sendiri sebagai aktor daripada sebagai sutradara. Cohen (1983) mengatakan bahwa sebenarnya kerja penyutradaraan telah ada seiring dengan kemunculan teater, namun tidak ada seseorang yang dianggap sebagai sutradara seperti istilah sekarang yang kita miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana munculnya sutradara…..?&lt;br /&gt;Merujuk pada pengertian Cohen bahwa sutradara telah ada seiring dengan kemunculan teater, sebagaimana yang kita ketahui asal mula drama dan teater berawal dari upacara persembahan. pada orang Yunani percaya apabila bencana datang terus-menerus menandakan dewa Dionysius mulai murka, ketika masa kesuburan datang, itu menandakan dewa Apollo melindungi tanaman mereka dari bencana. Dalam upacara persembahan tersebut, dibutuhkan seseorang yang dipercayakan mampu mengarahkan dan mengatur segala kebutuhan upacara. Seseorang yang dianggap mampu mengatur itu adalah pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kerja sutradara? &lt;br /&gt;Pertama-tama memilih atau menulis naskah, kemudian membaca naskah, setelah itu melakukan analisis terhadap naskah. Menganalisis naskah terdiri dari dua bagian, yakni analisis struktur dan tekstur naskah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;Untuk mengkaji beberapa aspek yang terkandung dalam teks dibutuhkan pengkajian dari penemuan data yang nampak secara visual. Gorge Kernodle menulis bahwa untuk memahami teks lakon, terlebih dahulu harus menganalisisnya untuk mengungkapkan struktur dan tekstur daramatik.  Stuktur adalah pola pikir yang sangat mendasar di dalamnya terdapat perancangan hasil dari pengamatan panca indara. Analisis Struktur Menurut Bakdi Soemanto adalah bangunan pikiran lakon yang terdiri dari plot, character, theme.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot/alur ceritra &lt;br /&gt;Terdiri dari awal, tengah, dan akhir. (awal, klimaks, dan ending). &lt;br /&gt;Flash back (alur mundur) &lt;br /&gt;Alur maju&lt;br /&gt;Muzaik /kolase/ zig-zag  (kejadian sekarang flash back, kejadian sekarang)&lt;br /&gt;Sirkuler (melingkar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter/watak tokoh&lt;br /&gt;Karakter tokoh dapat ditemukan melalui pengamatan terhadap dialog-dialog yang terdapat dalam naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;Tema sama halnya dengan fondasi bangunan rumah, sebagus apapun rumah tanpa campuran yang baik bangunan itu akan retak dan runtuh. Pemaknaan fondasi adalah dasar atau pijakan bahwa tidak ada bangunan cerita drama yang baik tanpa tema. Harymawan  menggunakan kata premise yakni rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menunjukkan arah tujuan cerita, ditinjau dari pelaksanaan merupakan landasan pola bangunan lakon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekstur&lt;br /&gt;Lakon merupakan pijakan dalam mewujudkan gagasan untuk memvisualisasikan pengembangan karakter atau watak tokoh serta unsur pementasan lainnya. Menafsir lakon terlebih dahulu memahami tekstur. Menurut Roman Ingarden, teks lakon pada umumnya adanya dua unsur pokok, yang pertama disebut Haupttext, yakni primary text atau teks utama yang berwujud dialog tokoh-tokoh, dan Nebentext, yakni ancillary text atau teks tambahan yang sering juga disebut teks pembantu. Teks tambahan ini biasanya dicetak miring, diletakkan dalam kurung dengan huruf kapital, atau garis bawah.  Tekstur berasal dari kata text yang berarti tenunan yang dapat ditangkap dengan lima indra, dengan mempertimbangakan tekstur dari teks dramatik lakon dalam wujud teks tertulis dapat dibayangkan sosoknya. Istilah ini untuk menyebutkan tiga unsur dalam teks dramatik yakni dialog, mood dan spectacles.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog &lt;br /&gt;Mengingat bahwa teks ini tidak memiliki narasi jalan yang dituju yakni melalui dialog yang ada pada teks lakon. Pertama harus menyajikan informasi, kedua, dialog harus mewujudkan karakter, ketiga, dialog harus mengiringi perhatian pada kepentingan plot, yaitu memberi tekanan pada makna dan informasi di dalamnya serta membangun reaksi yang dihasilkannya. Keempat, dialog menghidupkan tema naskah, kelima, dialog harus membantu pembentukan nada dan suasana kemungkinannya, keenam, dialog harus membantu meningkatkan tempo dan irama.  Dialog berfungsi sebagai alat aktor untuk menyampaikan pesan kepada penonton, melalui suara dan gerak tubuhnya. Untuk memahami naskah sutradara membaca naskah berkali-kali, kemudian memaknai maksud dari tiap-tiap kata yang terdapat dalam kalimat setelalah itu memilih diksi (gaya berkata). pengucapatan intonasi (tekanan nada suara), artikulasi (pengucapan kata-kata yang jelas), Adapun tujuan Haupttext dan Nebentext untuk mempermudah sutradara serta pemainnya menganalisis lakon. &lt;br /&gt;Mood adalah suasana.&lt;br /&gt; Aristoteles menyebut bahwa suasana dan irama sebagai musik.  Irama musik dapat digunakan sebagai pengganti istilah suasana dan irama pertunjukan, suasana sebuah pertunjukan tergantung pada gabungan berbagai unsur termasuk spektakel dan bahasa yang kemudian mencipta sebuah irama permainan. Penonton langsung menyaksikan aktor bergerak dengan irama, berbicara dengan irama, bahkan penonton langsung merasakan perubahan irama permainan karena pergantian intensitas cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektakel &lt;br /&gt;Melalui pencermatan teks dalam lakon serta penataan artistik dapat kita temukan spektakel yang tersembunyi di dalam lakon. Adapun makna dari kejelasannya dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. Spektakel adalah suatu daya tarik yang hadir secara visual di atas panggung. Spektakel terdiri dari kostum, penataan cahaya, tata rias, tata busana. Spektakel atau mise en scene berarti sebagai berikut:  Spektakel adalah gerakan atau tindakan fisik seorang tokoh yang berlangsung di atas panggung, tentunya melalui aktor untuk menyampaikan pikir dan rasanya. Spektakel digunakan sutradara dan untuk menyusun tindakan secara fisik dan keaktoran bisnis tokoh, keluar masuk aktor, pengelompokkan aktor, memilih kostum dan rias, dan memilih ruang panggung sesuai dengan penafsiran lakon. Spektakel adalah ruang visual yang  disimbolkan melalui suara atau unsur pemanggungan  lainnya. Spektakel dapat digunakan untuk meyakinkan tindakan tokoh melalui skeneri, tata lampu, permainan aktor, tata kostum yang tepat. Spektakel dapat membantu diksi mengungkapkan cerita. Spektakel dapat lebih meyakinkan dibanding dengan kata, karena dibantu oleh penyutradaraan, keaktoran, dan penataan artistik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali latar belakang pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biodata pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang tempat/waktu/peristiwa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu: Tahun kejadian&lt;br /&gt;Tempat: Terjadi di mana&lt;br /&gt;Peristiwa: Kejadian apa yang terjadi pada saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis tokoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Psikologis (latar belakang kejiwaan)&lt;br /&gt;- Mentalitas, ukuran moral/membedakan antara yang baik dan tidak baik.&lt;br /&gt;- Temperamen, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan kelakuan&lt;br /&gt;- IQ. (intelligence Quotient), tingkat kecerdasan, keahlian khusus dalam  &lt;br /&gt;        bidang-bidang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sosiologis (latar belakang kemasyarakatannya)&lt;br /&gt;- Status social&lt;br /&gt;- Pekerjaan, jabatan, peranan di dalam masyarakat&lt;br /&gt;- Pendidikan&lt;br /&gt;- Kehidupan pribadi&lt;br /&gt;- Pandangan hidup, kepercayaan, agama, ideologi.&lt;br /&gt;- Aktivitas sosial, organisasi, hobby.&lt;br /&gt;- Bangsa, suku, keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fisiologis (ciri-ciri badani)&lt;br /&gt;- Usia (tingkat kedewasaan)&lt;br /&gt;- Jenis kelamin&lt;br /&gt;- Keadaan tubuhnya&lt;br /&gt;- Ciri-ciri muka dan sebagainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artistik Terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu&lt;br /&gt;Kostum&lt;br /&gt;Make up&lt;br /&gt;Set Panggung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEATER SEBAGAI ORGANISASI&lt;br /&gt;Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi (bentuk kerja kolektif; di mana segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapi, dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil), seperti halnya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan teater dapat juga sebagai keberhasilan suatu seni organisasi; baik organisasi penyelenggaraannya (panitia produksi) maupun segi seni-seninya (penyutradaraan, penataan set, permainan, musik dan unsur-unsur lain). Berikut ini contoh elemen dari sebuah grup teater dalam mengadakan sebuah produksi. &lt;br /&gt;- Pimpinan Produksi&lt;br /&gt;Mengatur semua tim produksi menanyakan kendala-kendala dilapangan, apabila terdapat kendala di lapangan pimpinan produksi segera mengambil keputusan dan memberi jalan keluar langkah-langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Sekretaris Produksi&lt;br /&gt;Berurusan dengan surat-menyurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keungan Produksi / Bendahara&lt;br /&gt;Memegang seluruh dana produksi dan mencatat keluar masuknya dana produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan  Dokumentasi&lt;br /&gt;Pengadaan Photo&lt;br /&gt;Pengadaan Camera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan Publikasi&lt;br /&gt;Menyebar Panflet&lt;br /&gt;Menyebar undangan kesurat kabar, atau siaran radio &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan Pendanaan&lt;br /&gt;Menyebarkan proposal keinstansi terkait  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan Ticketting atau karcis&lt;br /&gt;Menjual ticket &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan Kesejahteraan&lt;br /&gt;Menyediakan konsumsi untuk pekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Urusan Perlengkapan&lt;br /&gt;Pengadaan peralatan sekretariat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Art Director / Pimpinan Artistik&lt;br /&gt; membawahi dan mengontrol beberapa tim produksi, yakni  &lt;br /&gt; Penata panggung, penata musik, penata kostum, penata make Up, dan penata musik.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;- Stage Manager/Manajer Panggung&lt;br /&gt;Menetukan tempat&lt;br /&gt;Pengadaan kelengkapan kebutuhan set&lt;br /&gt;Mengatur para pemain ketika gladi kotor dan gladi bersih&lt;br /&gt;Menentukan jadwal dan jam pemakaian panggung&lt;br /&gt;Mengatur sirkulasi pemain di belakang panggung&lt;br /&gt;Menentukan pembagian tempat pemain di bagian kiri dan kanan panggung. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tertukarnya hand prop serta kostum&lt;br /&gt;Menentukan kapan pertunjukan akan dimulai.&lt;br /&gt;Saat pertunjukan berakhir memeriksa kembali ruang make up dan tempat-tempat lainnya siapa tahu ada barang yang tertingal.  &lt;br /&gt;Mengatur keluar masuk penoton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cruw Panggung.&lt;br /&gt;pekerja panggung yang medekorasi panggung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai contoh seorang urusan pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan. Begitupula seorang Sutradara yang bertanggungjawab atas pola permainan panggung; (pemeran, cahaya, bunyi-bunyian, set panggung, make up, kostum, dan lain-lain). Jikalau kita memandang elemen dalam grup teater, ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri; setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”. &lt;br /&gt;Tahap perancangan sutradara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Memilih atau menulis naskah&lt;br /&gt;2.Menganalisis naskah&lt;br /&gt;3.Membuat konsep&lt;br /&gt;4.Membuat jadwal latihan&lt;br /&gt;5.Menentukan tempat latihan&lt;br /&gt;6.Mengumpulkan pemain dan tim artistik.&lt;br /&gt;7.Memimpin latihan&lt;br /&gt;1.Reading&lt;br /&gt;2.Memilih pemain&lt;br /&gt;3.Menentukan watak&lt;br /&gt;4.Menentukan irama permainan&lt;br /&gt;5.Menentukan blocking atau garis pemain&lt;br /&gt;6.Mempertimbangkan keseimbangan panggug  &lt;br /&gt;7.Penciptaan komposisi&lt;br /&gt;8.Levelitas&lt;br /&gt;9.Teknik muncul &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan ini merupakan tahapan penggalian sekaligus pencarian bentuk dan warna.&lt;br /&gt;Catatan penting bagi sutradara ketika praktek berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sutradara mampu mengatur kecerdasan emosinya. &lt;br /&gt;2.Bersikap bijak setiap menyikapi persoalan.&lt;br /&gt;3.Bersikap terbuka menerima segala masukan, berani mengambil keputusan  &lt;br /&gt;  tentunya dengan berbagai pertimbangan.&lt;br /&gt;4.Memahami psikologis tiap-tiap aktornya.&lt;br /&gt;5.Mampu membaca suasana apabila situasi pemain mengalami kejenuhan. &lt;br /&gt;6.Selalu menciptakan suasana yang harmonis kepada seluruh tim produksi. bila&lt;br /&gt;  perlu bersikap humoris. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Pementasan. &lt;br /&gt;Pementasan merupakan hasil akhir dari sebuah penciptaan pemanggungan, keberhasilan seorang sutradara dalam mengelola segala unsur penciptaan teater akan tampak pada saat pementasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-6800728040280060565?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/6800728040280060565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/workshop-penyutradaraan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6800728040280060565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/6800728040280060565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/12/workshop-penyutradaraan.html' title='Workshop penyutradaraan'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7195584103982550500.post-3488393548681091197</id><published>2009-11-19T06:55:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T07:26:21.401-08:00</updated><title type='text'>PENTINGNYA MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL</title><content type='html'>Proses Kreatif Teater Melalui Karya Lakon&lt;br /&gt;Moh. Noerdianza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya lokal tradisi Sulawesi Tengah dikenal dengan sejarah tutur. Ini terbukti tidak adanya temuan para ahli arkeolog dan antropolog mengenai peninggalan tertulis, yang ada hanyalah peninggalan batu tua arca menhir sebagai warisan budaya, yang disebut zaman megalitikum. Bermula dari era mesolithikum (era peralihan dari peradaban batu tua yang di sebut paleolithikum menuju pada era peradaban batu muda neolithikum). (Rusdy Mastura, 2008). Di lembah-lembah tersebut rata-rata patung batu tertanam di tanah dengan bentuk yang unik sebagai perwujudan tokoh yang dianut ataupun disegani. Sebagai contoh, patung Tadulako dari lembah Besoa, (simbol panglima perang) pada bagian dada, mata bulat melotot, memakai ikat kepala (pekabalu) dan bagian pelipis terdapat benjolan yang menunjukkan telinga, tangan mengarah ke phallus (alat kelamin) yang menonjol. Menurut mitos diyakini sebagai simbol panglima perang dan nenek moyang, sehingga masing-masing diberikan sesaji untuk mendapatkan berkah. Begitu pula dengan Kalamba (tempat mandi raja) juga dari lembah Besoa, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso. Badan Kalamba dihiasi pola hias melingkar dan motif  hias hewan. Satu lagi patung yang unik adalah Palindo, replica arca menhir yang terdapat di Situs Padang Sepe, lembah Bada. Patung Palindo dianggap masyarakat sebagai penghibur, yakni perwujudan nenek moyang yang bernama Tasologi yang mampu mengangkat rakyat Bada melawan suku Musamba. Arca ini miring sekitar 30 derajat dengan tinggi 400 cm. Cerita mitos akan lebih menarik apabila ditansformasikan kembali dalam bentuk naskah memperkenalkan kepada khalayak bahwa Sulawesi Tengah memiliki warisan budaya zaman megalitikum. Yudiaryani mengemukakan betapa pentingnya proses transformasi sastra lisan menjadi karya lakon untuk dilestarikan mengingat betapa kayanya negeri ini akan hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya zaman berkembang pula pemikiran-pemikiran terhadap seni pertunjukan kreatif. Cerita rakyat yang juga disebut dengan cerita klasik, dalam konteks seni pertunjukan kreatif tidak lagi dipentaskan seolah-olah seperti wujud aslinya, melainkan dijadikan dasar pijakan untuk menciptakan sesuatu yang “baru”. Seperti halnya di negeri Eropa, kita mengenal kisah cinta “Romeo dan Juliet”, “Oidipus”, di Indonesia kita mengenal cerita klasik wong Jowo “Roro Mendut”, pada dewasa ini cerita klasik tersebut di rombak, memutarbalikkan fakta sesuai konteks ke-kinian, dan perubahannya bisa saja dilihat dari perubahan kostum, sett, properti, lakon, make up, pemeranan yang  tidak lagi melihat latar belakang waktu, tempat dan peristiwa lampau melainkan peristiwa ke-kinian. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan. Sebelumnya, WS. Rendra, Arifin C. Noer, Teguh Karya, Sardono dan lain-lain. Sudah menghidupkan jiwa-raga tradisi yang akan sesat kalau dicari asal muasalnya ke Barat (Ign Arya Sanjaya, 2009:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam disiplin ilmu pertunjukan mengembangkan tradisi budaya lokal ke dalam konteks ke-kinian disebut seni pertunjukan kontemporer. Kontemporer berasal dari kata tempo atau waktu pada masa kini atau dewasa ini. Maka dalam kontemporer tidak ada pertanyaan yang terjawab secara otomatis, tidak ada gaya yang wajib dianut, tidak ada penafsiran yang selalu benar. Jean Paul Sartre mengatakan bahwa manusia mendapat hukuman dengan hidup secara bebas. Dunia teater membebaskan sutradara, kreografer, komposer berhadapan dengan hampir semua kehidupan tanpa batas, yang membawanya pada kegelisahan eksistensial, yaitu kegelisahan yang mengerikan sebagai tantangan yang mendebarkan. Memang kegiatan teater di Indonesia juga ada yang berkiblat ke teater Barat sebagaimana yang dilakukan ATNI, lewat Asrul Sani, Teguh Karya dan Wahyu Sihombing. Tetapi yang lebih tegas dan deras adalah akar teater tradisi (Ign Arya Sanjaya, 2009:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya karya-karya lakon yang berangkat dari budaya lokal sebagai batu loncatan bagi para seniman lokal dan pemerhati seni memperkenalkan dan melestarikan kebudayaannya melalui seni pertunjukan teater. Sebab Kesenian itu sendiri tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan. Bagaimanapun kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari ruang, di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah (Umar Kayam, 1980:38-39).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7195584103982550500-3488393548681091197?l=lumbungperan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lumbungperan.blogspot.com/feeds/3488393548681091197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/11/pentingnya-mengembangkan-kearifan_19.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/3488393548681091197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7195584103982550500/posts/default/3488393548681091197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lumbungperan.blogspot.com/2009/11/pentingnya-mengembangkan-kearifan_19.html' title='PENTINGNYA MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL'/><author><name>LumbungPeran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02233732308753240329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hVhM6yZVwGI/TjWWX4961RI/AAAAAAAAABI/H2piekgTlEc/s220/tdk%2Bada009.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
